Dari Dapur Rumah ke Ribuan Porsi: Kisah Maya dan Program Makan Bergizi

- Senin, 08 Desember 2025 | 21:12 WIB
Dari Dapur Rumah ke Ribuan Porsi: Kisah Maya dan Program Makan Bergizi

Dari dapur kecil di Jeulingke, Banda Aceh, aroma mentega hangat dan adonan roti yang baru dipanggang menyebar ke udara. Maya Ariska, 31 tahun, tampak sibuk. Tangannya mencatat pesanan, matanya sesekali menengok ke arah adonan yang perlahan mengembang. Di sekelilingnya, beberapa pekerja perempuan lain asyik mengadon, menggoreng donat, dan menyiapkan loyang-loyang baru.

"Hari Jumat dan Sabtu itu puncak kesibukan," ujarnya, ditemui di rumah produksinya di Jalan Teuku Nyak Arief.

"Tapi saya senang. Sejak ikut program MBG, pesanan makin bertambah saja."

Bagi Maya, kesibukan sebenarnya sudah jadi makanan sehari-hari. Namun, volume pesanan yang kini bisa menyentuh angka ribuan hanya dalam hitungan hari? Itu sesuatu yang sama sekali tak terbayangkan enam tahun silam, saat ia pertama kali iseng mencoba membuat kue dari dapur rumahnya yang sederhana.

Ceritanya berawal dari masa kecil. Maya sering membantu kakaknya di dapur, belajar dari hal-hal dasar: menyiapkan bahan, mengaduk adonan, sampai akhirnya mencicipi hasil jadi. Dari situlah rasa penasarannya tumbuh. Saat pandemi melanda dan waktu luang tiba-tiba banyak, ia pun kembali membuka catatan resep lama dan mulai bereksperimen.

"Awalnya cuma bantu-bantu kakak. Lama-lama jadi penasaran dan mulai coba buat sendiri," kenangnya.

Eksperimen dapur itu perlahan membuka jalan. Saat nongkrong dengan teman, ia kerap membawa kue buatannya. Tanpa direncanakan, kue itu diposting di Instagram. Dan pesanan pun mulai berdatangan, sedikit demi sedikit.

"Iseng-iseng berhadiah, lah. Dari mulut ke mulut, akhirnya ada yang pesan. Saya mulai serius sejak 2019," tutur Maya.

Dari proses sederhana itulah lahir "Cream Puff Maya Anzib", mengambil nama dari produk pertamanya yang hingga kini masih jadi andalan. Di saat banyak usaha mikro lain terpuruk selama pandemi, Maya justru kebanjiran pesanan via ojek daring. Akhir 2020, ia memberanikan diri membuka outlet mungil 3x4 meter di depan rumah. Tak sampai setahun, ia harus pindah ke lokasi lebih besar karena permintaan terus mengalir deras.

Lonjakan yang Tak Terduga

Keterlibatannya dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi begitu saja. Rekomendasi datang dari seorang staf SPPG yang kebetulan pelanggan setianya. Dari situ, pesanan dalam skala besar mulai masuk. Maya kini jadi pemasok ribuan roti untuk tiga dapur MBG sekaligus.

Permintaannya fantastis: sekitar 3.200 hingga 3.700 pis per dapur dalam sekali order. Pernah, dalam dua hari, total pesanan menembus angka 14.000 pis. Untuk memenuhi pesanan program ini, Maya menyiapkan menu khusus: roti abon, muffin wortel, soft cookies, hingga roti isi kacang hijau dan merah.

Dengan volume sebesar itu, mustahil ia bekerja sendirian. Maya mulai merekrut tenaga dari lingkungan sekitar. Saat ini, ada 10 karyawan tetap yang membantunya setiap hari. Mereka menangani segala hal, mulai dari mengadon sampai mengemas. Belum lagi pekerja freelance yang jumlahnya bisa bertambah sesuai gelombang pesanan.

"Kalau orderan sedang membludak, terutama di akhir pekan, saya pasti tambah tenaga lepas," jelasnya.

Kebutuhan bahan baku pun melonjak drastis. Setiap minggu, ia berburu tepung, telur, gula, dan bahan premium lain dalam jumlah besar ke beberapa toko demi mendapatkan harga terbaik.

"Alhamdulillah, program MBG ini benar-benar mendongkrak produksi. Kami senang bisa menyediakan kue sehat dan sekaligus mendukung penyediaan makanan bergizi," kata Maya.

Menurutnya, program ini memberi lebih dari sekadar pesanan yang stabil. Ia melihat peluang nyata bagi UMKM kecil seperti miliknya untuk benar-benar berkembang.

"Margin per item mungkin tidak besar, tapi sistem pembayarannya cepat. Itu yang bikin arus kas usaha jadi lancar," ujarnya.

Meski begitu, tantangan tetap ada. Menjaga kualitas dan konsistensi rasa di tengah produksi massal bukan perkara mudah. Belum lagi soal memastikan standar gizi dan mengatur logistik pengiriman dalam volume besar.

Maya berharap ada pendampingan yang lebih konkret dari pemerintah, misalnya pelatihan keamanan pangan atau bantuan peralatan. Ke depan, jika permintaan terus naik, ia bermimgi membangun dapur produksi khusus agar semuanya lebih tertata.

"Harapan saya sederhana. Usaha ini bisa terus tumbuh dan memberi manfaat, bukan cuma buat saya, tapi juga untuk semua karyawan yang sudah membantu," pungkasnya, sambil kembali menengok ke arah dapur yang tak pernah sepi.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar