Kisah Para Kusir dan Kuda Pekerja di Kampung Delman Kemanggisan

- Minggu, 07 Desember 2025 | 17:54 WIB
Kisah Para Kusir dan Kuda Pekerja di Kampung Delman Kemanggisan

Di antara gedung-gedung tinggi Kemanggisan, Jakarta Barat, ada sebuah sudut yang tak banyak diketahui orang. Puluhan kandang kuda berjejer di sana, membentuk sebuah perkampungan unik yang dikenal sebagai Kampung Delman. Lokasinya tersembunyi, tepat di bantaran Kali Grogol, menjadi tempat bagi para kusir yang mangkal di Monas untuk menitipkan dan merawat hewan tunggangan mereka.

Menurut Nanang, Koordinator Lapangan Peduli Kuda Pekerja, sejarah kampung ini bermula sekitar tahun 2000. Awalnya, tempat ini terpencil dan terbengkalai. Hanya ada enam kandang, dikelilingi pepohonan rimbun. Banyak warga yang justru memanfaatkannya sebagai tempat pembuangan sampah.

"Awal di sini tuh bisa dibilang kayak tempat jin buang anak," kenang Nanang, ditemui pada suatu Minggu pagi.

Istilah itu, tentu saja, menggambarkan lokasi yang sunyi dan nyaris tak tersentuh. Namun, lambat laun keadaan berubah. Ada kandang lain di dekat SMAN 78 yang akhirnya tergusur, membuat para pemilik kuda berbondong-bondong pindah ke sini. Kampung Delman pun bertumbuh.

Kini, klaim Nanang, tempat ini jadi yang terpadat jumlah kudanya di Jakarta. "Nah ya kurang lebih sekarang di sini kandang ada 30 ekor totalnya," jelasnya. Para pemiliknya adalah warga sekitar yang kebanyakan juga pengusaha delman. Meski begitu, tak sedikit dari mereka yang sudah sepuh sehingga tak sanggup lagi menjalankan delman. Solusinya? Mereka merekrut kusir. Operasi biasanya hanya berlangsung di akhir pekan, Sabtu dan Minggu, di sekitar Monas. Di hari biasa, waktu dihabiskan untuk merawat sang kuda: membersihkan kandang, memandikan, dan memberi makan.

Gali Lubang Tutup Lubang demi Perawatan Kuda

Di tengah gempuran zaman, Nanang mengakui dengan jujur: penghasilan dari menarik delman sudah tak sebanding dengan biaya perawatan kuda. Hitung-hitungannya kasar tapi jelas. Untuk pakan saja, dalam sehari bisa habis Rp 70 ribu. Rinciannya, sekitar Rp 50 ribu untuk rumput, belum lagi biaya tapal kuda atau tali-temali yang perlu diganti.

"Itu kita hitung-hitung sehari kurang lebih Rp 70 ribu. Makanya kalau kita nggak punya duit bingung. Kadang-kadang juga kita bela-belain ngutang ya buat makan dia," ujar Nanang.

Lalu bagaimana bertahan? "Jadi gali tutup lubang, gali lubang. Tapi alhamdulillah sih berkah. Karena kita ngelakuin satwanya, ngelakuin kuda-kuda kita juga anggap kayak keluarga kita," tambahnya penuh keyakinan. Bagi mereka, kuda bukan sekadar alat pencari nafkah, tapi bagian dari kehidupan.

Mereka pun terbuka jika ada bantuan dari Pemprov DKI. Harapannya sederhana: ada lahan yang lebih layak untuk merawat kuda-kuda pekerja ini. "Ketika pemerintah mau memindahkan atau menyiapkan relokasi untuk kita, ya kenapa enggak. Kita siap aja dengan aturan-aturan mereka," tukas Nanang. Sebuah harapan yang masih menunggu realisasi, di tengah gemuruh kota yang terus berubah.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar