“Siapa pun pasti akan marah. Kita harus menerimanya karena kesalahan terjadi dalam situasi seperti ini. Kita harus membiarkan orang-orang melampiaskan kekesalan dan meminta maaf kepada mereka,” ujarnya.
“Kita harus meminta maaf karena telah memaksa orang-orang meninggalkan rumah-rumah mereka dan hidup seperti ini. Apa pun masalahnya, kita harus mengakui bahwa kesalahan telah terjadi, tetapi kita tidak boleh membiarkan kesalahan terulang atau lebih buruk lagi. Kita harus pulih,” tambah Anutin.
Di lapangan, upaya bantuan terus digenjot. Pemerintah mengerahkan tim untuk membersihkan puing dan mendistribusikan bantuan. Ada juga kompensasi yang dijanjikan, mencapai 2 juta Baht untuk setiap keluarga yang kehilangan anggota.
Namun begitu, janji dan permintaan maaf itu tampaknya belum cukup meredam amarah. Kritik pedas mengalir deras menyoroti lambatnya respons dan penanganan yang dianggap tidak maksimal. Akibatnya, setidaknya dua pejabat lokal sudah dicopot dari jabatannya karena diduga gagal menjalankan tugas.
Anutin sendiri berjanji akan memperbaiki sistem penanggulangan bencana. Tapi bagi warga yang rumahnya terendam dan kehilangan sanak saudara, janji itu harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Dan waktu berjalan sangat cepat.
Artikel Terkait
Bupati Pati Tersangka KPK: Saya Dikorbankan, Katanya
KPK Jerat Bupati Pati dalam Kasus Proyek Kereta Rp143 Miliar
Gaji Sopir MBG Lebih Tinggi, Guru Honorer: Miris Hati Saya
Bupati Pati Dijerat Dua Kasus Korupsi, Nilainya Capai Miliaran Rupiah