“Walaupun memang banyak hal berubah. Kadang dua hari tidak bertemu suami. Tapi beliau mendukung karena tahu saya senang dengan anak,” aku Bunda Lina.
Ia juga belajar bahwa pendampingan yang efektif menuntut kekompakan tim. Tanpa itu, semuanya akan sia-sia.
“Jadi akhirnya ketika itu tidak dilakukan bersama oleh orang dewasa... ya, pembentukan karakter tidak jalan,” jelasnya.
Perlahan, perubahan itu terlihat. Anak yang dulu menunduk, kini menyapa dengan ramah. Yang wajahnya dulu sinis, belajar untuk tersenyum dan memeluk.
Bunda Lina teringat satu siswi yang awalnya sangat sulit didekati. Wajahnya datar, nadanya dingin, enggan menyapa. Segalanya berubah setelah Bunda Lina memuji kerapian kamarnya. Baju dan tempat tidurnya tertata rapi.
“Besoknya dia mulai menyapa. Hari ini sudah memeluk,” tuturnya sambil tersenyum.
Rupanya, latar belakangnya berasal dari orang tua yang mungkin tak punya waktu untuk sekadar memberi apresiasi.
Tak hanya di asrama putri. Ia menceritakan seorang anak laki-laki yang ketahuan merokok pelanggaran yang bisa berujung pada dikeluarkan dari sekolah. Tapi, pihak sekolah memilih memberi kesempatan.
“Diberikanlah gitar dan mengganti (keinginan merokok) dengan permen. Rasa percaya dirinya muncul dan rokok ditinggalkan,” kata Bunda Lina.
Konflik pertemanan juga jadi menu harian. Malam-malam saat ia piket, sering diisi antrean anak yang hanya ingin menangis, didengar, dan divalidasi perasaannya. Sesuatu yang sederhana, tapi justru jarang mereka dapatkan di rumah.
“Yang mereka butuhkan itu sederhana. Dipeluk, didengar, dihargai. Mereka ingin merasa aman dan diakui,” ujarnya.
Dari obrolan demi obrolan, Bunda Lina melihat pola yang sama. Hampir semua anak membawa kekosongan yang serupa: kurangnya kasih sayang.
“Kalau saya tanya, di rumah dipeluk seperti ini atau tidak? Mereka jawab ingin, tapi tidak pernah,” katanya.
Sebagian besar tumbuh dalam keluarga penuh konflik. Sebagian kehilangan ibu, atau dibesarkan oleh orang tua yang sibuk bekerja. Maka, bagi Bunda Lina, sekolah rakyat ini lebih dari sekadar tempat belajar. Ini adalah ruang pemulihan. Tempat untuk membangun kebiasaan baik dan, yang paling penting, rasa aman yang mungkin untuk pertama kalinya mereka rasakan.
Artikel Terkait
Desa di Balik Hutan: Pemerintah dan DPR Bahas Nasib Ribuan Kampung Tertinggal
Dompet dan Buku Harian Pramugari Ditemukan di Lereng Bulusaraung
Tiga Guru Besar Siap Dukung Tifa di Sidang Kasus Ijazah Jokowi
Purbaya Yudhi Sadewa: Saya Bisa Perbaiki Rupiah dalam Dua Hari, Tapi...