Menjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, kondisi jalan tol jadi perhatian utama. PT Jasa Marga punya pekerjaan rumah yang tidak ringan: memastikan seluruh ruas tol dalam keadaan prima. Mereka terpaksa mempercepat program preservasi jalan. Tujuannya jelas, menjaga keamanan dan kenyamanan bagi jutaan pemudik yang akan memadati jalan.
Tekanan datang dari dua sisi. Di satu sisi, curah hujan tinggi belakangan ini berpotensi merusak perkerasan jalan. Di sisi lain, lalu lintas yang padat ditambah dengan maraknya kendaraan bermuatan berlebih atau ODOL makin memperberat kondisi jalan. Prakiraan BMKG pun tidak terlalu menggembirakan. Cuaca selama libur Lebaran nanti diperkirakan masih didominasi hujan ringan hingga sedang di sejumlah wilayah. Makanya, percepatan preservasi ini dianggap langkah yang perlu.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, secara terbuka menyampaikan permintaan maaf.
"Kami minta maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin dialami pengguna jalan akibat gangguan perkerasan dan pekerjaan preservasi yang berlangsung," ujarnya.
Namun begitu, ia menegaskan komitmen perusahaan. "Kami berkomitmen melakukan percepatan agar keamanan dan kenyamanan pengguna jalan tetap terjaga, terutama menghadapi lonjakan volume lalu lintas mudik dan balik Lebaran," kata Rivan dalam keterangan tertulis, Kamis (12/3/2026).
Targetnya ambisius. Seluruh gangguan perkerasan jalan ditargetkan tuntas dan optimal paling lambat 14 Maret 2026. Ini demi memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) sekaligus menjaga layanan operasional tetap prima saat hari-H. Pekerjaan ini dilakukan di bawah pengawasan Kementerian PUPR, sebagai bagian dari upaya memenuhi standar pelayanan maksimal.
Secara teknis, apa saja yang dikerjakan? Pekerjaan preservasi ini cukup komprehensif. Mulai dari scraping, filling, overlay (SFO) untuk memulihkan permukaan jalan, hingga penanganan cepat lubang (patching) di titik-titik yang rusak akibat beban ODOL. Mereka juga tak lupa membersihkan dan menormalisasi saluran drainase. Genangan air hujan itu musuh utama jalan, bisa mempercepat kerusakan.
Tak cuma soal jalanan. Pengecatan marka, perbaikan guardrail, pemeliharaan rambu dan penerangan jalan umum (PJU) juga masuk dalam daftar pekerjaan. Semua dilakukan secara proaktif dan rutin untuk menjaga keandalan infrastruktur.
Untuk mengantisipasi lonjakan, kesiapan tim dan logistik juga ditingkatkan drastis. Tim perkerasan dan jembatan ditambah jadi 67 tim. Tim ruang milik jalan dan drainase membengkak jadi 222 tim. Belum lagi tim siaga sebanyak 71 tim yang siap bergerak. Material penanganan darurat seperti coldmix disiapkan ribuan zak, plus ratusan unit pompa dan 14 titik sistem peringatan dini untuk genangan.
Rivan menambahkan, "Proses preservasi ini kami lakukan secara masif dan terkoordinasi agar setiap ruas tol prima. Keselamatan adalah prioritas utama kami untuk menghadirkan perjalanan mudik yang aman."
Lalu, bagaimana agar pekerjaan ini tidak justru memacetkan arus mudik? Strateginya adalah kerja bertahap dengan pengaturan lalu lintas ketat. Sebagian besar pekerjaan dilakukan pada malam hingga dini hari, dengan pembatasan satu lajur. Rambu peringatan dan perangkat pengaman di lokasi pekerjaan wajib ada. Petugas patroli dan derek juga disiagakan 24 jam untuk respons darurat.
"Seluruh kegiatan dilaksanakan sesuai standar K3 dan berkoordinasi dengan Kepolisian serta pemangku kepentingan," tutup Rivan.
Informasi terkini soal rekayasa lalu lintas dan kondisi jalan, kata dia, akan terus diperbarui secara real-time. Masyarakat bisa mengeceknya melalui media sosial resmi Jasa Marga, Call Center 133, atau aplikasi Travoy.
Artikel Terkait
Pelita Jaya Kokoh di Puncak Klasemen IBL Usai Hajar RANS Simba 87-58
AC Milan vs Juventus Imbang 0-0, Persaingan Tiket Liga Champions Makin Ketat
Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 14 Orang, Gencatan Senjata dengan Hizbullah Kembali Terancam
Kiandra Ramadhipa Menang Perdana di Red Bull Rookie Cup Usai Manuver Lap Terakhir dari Posisi 17