Sebuah cuitan di Twitter belakangan ini ramai dibicarakan. Cuitan itu, dari akun @kafiradikalis, menyoroti satu organisasi masyarakat yang kini sudah tak lagi beroperasi: FPI. Yang menarik, pengakuan ini justru datang dari seorang yang disebut-sebut sebagai aktivis "kafir", Bung Iyut.
Dalam unggahannya, dia menggambarkan ormas tersebut dengan nada yang cukup mengejutkan. Katanya, dulu pernah ada satu ormas yang responsnya luar biasa cepat saat bencana melanda.
“…Pernah ada 1 ormas yg begitu luar biasa cepat hadir jika ada bencana. Bahkan terlalu militan sampe bikin aparat gak nyaman karna dipaksa mengikuti ritme kerja intens ormas tsb. Datang paling awal dan pulang paling akhir di setiap bencana. Nama ormasnya: FPI”
Narasi itu, meski singkat, punya bobot. Ia menyiratkan sebuah ironi yang besar. Di satu sisi, ada gambaran tentang dedikasi dan militansi di lapangan. Di sisi lain, ritme kerja yang begitu tinggi sampai-sampai membuat pihak berwenang "tidak nyaman".
Ini kemudian mengantarkan pada satu fakta politik yang tak terbantahkan: ormas itu akhirnya dibubarkan oleh pemerintahan Jokowi. Bagi sebagian kalangan, keputusan pembubaran itu bukan sekadar kebijakan administratif. Mereka melihatnya lebih jauh. Banyak yang menyebutnya sebagai salah satu "dosa besar" dari periode kepemimpinan tersebut. Sebuah catatan sejarah yang, bagi mereka, tak boleh dilupakan.
Foto-foto yang beredar seolah ingin mengukuhkan kenangan itu. Ada gambar saat anggota TNI dan relawan FPI bahu-membahu mengevakuasi korban gempa dan tsunami di Palu. Lalu, ada pula potret relawan mereka yang sedang berjibaku di lokasi banjir. Setiap foto itu bercerita tentang aksi langsung di lapangan, jauh dari hiruk-pikuk retorika.
Memang, membicarakan FPI selalu kompleks. Namun begitu, cuitan dari Bung Iyut ini mengingatkan satu sisi yang sering tenggelam dalam debat panas: peran kemanusiaan mereka saat masyarakat terdampak bencana. Apapun pandangan politik seseorang, narasi tentang tim relawan yang datang paling awal dan pulang paling akhir itu, tetap menyisakan pertanyaan dan ruang untuk renungan.
Artikel Terkait
Jurnalis Senior Kritik Buku Money Politics Kurang Data Empiris
Mahfud MD Kritik Upaya Kasasi atas Vonis Bebas Delpedro, Ingatkan Jiwa KUHAP Baru
Ahli: Budaya Politik Tanah Subur Penyebab Money Politics Terus Berulang
Gunung Semeru Erupsi Tujuh Kali, Kolom Abu Capai 800 Meter