Bupati Aceh Tengah Angkat Tangan, Akui Tak Mampu Hadapi Bencana

- Senin, 01 Desember 2025 | 18:06 WIB
Bupati Aceh Tengah Angkat Tangan, Akui Tak Mampu Hadapi Bencana

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, secara resmi menyatakan dirinya tak lagi mampu menangani darurat bencana yang melanda wilayahnya. Pernyataan mengejutkan itu tertuang dalam sebuah surat yang dia tandatangani sendiri.

Surat bernomor 360/3654 BPBD/2025 itu terbit pada 27 November 2025. Isinya lugas: Bupati mengaku kewalahan. Situasinya memang parah. Sehari sebelumnya, status darurat bencana hidrometeorologi sudah ditetapkan. Banjir luapan, banjir bandang, hingga tanah longsor telah merenggut 15 nyawa. Lebih dari 3.000 kepala keluarga terpaksa mengungsi, dan angka itu dipastikan masih akan bertambah.

Dengan berat hati, Haili Yoga menyatakan ketidakmampuan melaksanakan penanganan darurat sebagaimana mestinya. Surat itu ditutup dengan harapan agar pernyataannya bisa digunakan seperlunya. Sebuah pengakuan yang jarang terdengar dari seorang pemimpin daerah.

Tanggapan dari Kemendagri

Merespons hal ini, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian angkat bicara. Menurutnya, keluhan dari kepala daerah itu wajar adanya. Bagaimana tidak, akses jalan yang terputus total membuat penanganan korban jadi sangat sulit.

"Nah, khusus tadi misalnya ada Kepala Daerah yang menyatakan tidak sanggup, ya gimana mau sanggup. Kondisinya enggak akan mungkin mampu,"

ujar Tito di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (1/12).

Namun begitu, dia menegaskan bahwa pemerintah pusat tak akan tinggal diam. Bantuan akan terus mengalir, terlepas dari apakah seorang kepala daerah mengaku sanggup atau justru menyerah.

"Tapi pemerintah pusat, mau dia [kepala daerah] katakan mampu, mau dia katakan nyerah, enggak mampu, pasti kita akan bekerja, membantu. Dan itu sudah sejak hari pertama,"

tegasnya.

"Kita menilai sendiri juga, mana-mana yang mampu, yang mana yang tidak. Yang kita anggap mampu pun kita bantu. Apa lagi yang mengatakan sudah nggak mampu,"

imbuh Tito.

Daerah yang Terkunci

Penjelasan Tito lebih lanjut menggambarkan betapa rumitnya medan di Aceh Tengah. Mobilisasi alat berat nyaris mustahil. Daerah itu seperti terkunci, terputus dari akses utara maupun selatan.

"Bagaimana mungkin kemampuan Pemda Aceh Tengah untuk melakukan mobilisasi alat berat, untuk memperbaiki jembatan, memperbaiki jalan-jalan yang pecah, patah, memperbaiki yang longsor, tertutup. Karena dia terkunci dari utara, dari Lhokseumawe, juga terkunci dari selatan,"

paparnya.

Jalan-jalan betul-betul putus. Karena itulah, Tito meminta semua pihak untuk tak hanya melihat secarik surat pernyataan. Lihatlah kondisi di lapangan yang sebenarnya.

"Jadi tolong teman-teman juga kalau melihat satu surat, jangan hanya melihat suratnya saja, lihat kondisinya,"

pungkasnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar