Stok Beras Bulog Tembus 5 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

- Senin, 20 April 2026 | 20:20 WIB
Stok Beras Bulog Tembus 5 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Stok beras di gudang Bulog diprediksi bakal sentuh angka fantastis pekan ini: 5 juta ton. Ini bukan angka sembarangan. Pencapaian ini, menurut catatan Kementerian Pertanian, adalah yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

Sam Herodian, Staf Khusus Menteri Pertanian, tak bisa menyembunyikan optimisme. Dalam sebuah briefing media di Auditorium BAKOM, Jakarta, Senin lalu, ia menyebut ada lonjakan signifikan. Gudang-gudang penyimpanan hampir penuh.

"Ada peningkatan 4,7 juta stok beras Bulog. Jadi dua hari lagi, kemungkinan atau hari Kamis ya, kita akan semacam syukuran 5 juta ton stok kita," ujar Sam.

Nada bicaranya jelas. Persoalannya kini berubah 180 derajat. Bukan lagi soal cari beras, tapi soal menyimpannya. "Justru kita lebih kesulitan bagaimana menyimpan beras kita, makanya sekarang mencari pasar keluar (ekspor)," katanya lagi. Ya, ekspor kini jadi opsi yang serius dipertimbangkan.

Di sisi lain, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, menegaskan fondasi ketahanan pangan sedang sangat kuat. Ia menyoroti angka 4,9 juta ton yang sudah ada di tangan sebagai stok cadangan beras pemerintah (CBP) tertinggi sepanjang sejarah.

Angka itu kontras banget dibanding kondisi setahun lalu. Data Bapanas menunjukkan, stok CBP sekarang melonjak 221,7 persen dari September 2023 yang cuma 1,52 juta ton. Lonjakan ini bukan kebetulan, melainkan persiapan matang.

Amran bicara soal ancaman cuaca dengan lebih gamblang. Menurutnya, pemerintah sudah belajar dari pengalaman. "El Nino kita sudah hitung. El Nino sekarang ada Godzilla, itu (kemungkinan) 6 bulan. Kita sudah pengalaman, sudah dua kali El Nino. (Tahun) 2015, 2023, 2024. (Sekarang) kita sudah siapkan lebih awal. Jadi Insyaallah aman," tegas Amran.

Jadi, narasinya bergeser. Dari waswas kekurangan, kini jadi repot karena kelebihan. Sebuah 'repot' yang tentu saja diharapkan banyak pihak. Pencapaian 5 juta ton itu bukan akhir cerita, tapi justru babak baru. Tantangan selanjutnya? Menjaga stok tetap prima dan menemukan saluran yang tepat untuk kelebihan yang ada.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar