Stabilitas Harga Pangan: BBM Subsidi Jadi Penahan, Tapi Ancaman Datang dari Kemasan
Meski harga BBM nonsubsidi baru saja disesuaikan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai kondisi harga pangan di dalam negeri masih relatif aman. Kuncinya? Keputusan pemerintah untuk tidak menyentuh harga BBM bersubsidi. Kebijakan itu dinilai jadi benteng utama mencegah gejolak.
I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Bapanas, menjelaskan logikanya dengan sederhana. Selama tarif angkutan yang mengandalkan BBM subsidi itu tidak berubah, maka tekanan pada harga bahan pokok bisa diredam.
“Sepanjang harga BBM subsidi tidak dinaikkan, tidak akan ada kenaikan angkutan. Tentu kalau transport-nya tidak naik, otomatis tidak memengaruhi harga pangan. Jadi, relatif terjaga,”
ujarnya dalam sebuah briefing media di Jakarta, Senin lalu.
Dia pun menyoroti kebijakan Presiden Prabowo yang dianggap tepat. Di tengah gejolak harga minyak dunia akibat ketegangan Timur Tengah, mempertahankan harga BBM subsidi adalah langkah yang patut diapresiasi.
“Jadi, kita patut bersyukur kebijakan Bapak Presiden yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi,”
tambah Ketut.
Namun begitu, ancaman stabilitas justru datang dari arah lain. Konflik di Selat Hormuz ternyata berimbas jauh, memicu kekacauan pasokan dan melambungkan harga bahan baku plastik di dalam negeri. Ini jadi masalah serius bagi usaha yang bergantung pada kemasan, seperti pedagang beras dan gula.
Bapanas sendiri sudah menerima keluhan dari pelaku usaha. Biaya produksi yang membengkak memaksa mereka mempertimbangkan penyesuaian harga.
“Teman-teman pelaku usaha menyampaikan, beras naik Rp350 per kilogram. Kalau gula sekitar Rp150 per kilogram. Artinya cukup berdampak, dan ini yang harus kita jaga benar-benar untuk ke depannya,”
paparnya.
Belum lagi soal biaya logistik internasional. Kenaikan biaya kargo dan premi tambahan di pelabuhan ikut menekan. Gangguan geopolitik juga memperlama waktu pengiriman bahan baku secara dramatis dari yang biasa 15 hari, bisa melonjak hingga 50 hari. Situasi yang tentu saja menambah kompleksitas.
Meski menghadapi berbagai tekanan itu, data Bapanas menunjukkan kondisi masih terkendali. Fluktuasi harga beras dan gula dalam sebulan terakhir belum menunjukkan kenaikan drastis di atas 10 persen. Pemerintah berjanji akan terus memantau struktur biaya di tingkat usaha. Tujuannya jelas: memastikan penyesuaian harga apapun tidak sampai menggerus daya beli masyarakat.
Jadi, waspada memang perlu. Tapi untuk saat ini, situasi masih bisa dikelola.
Artikel Terkait
Pria Diamuk Massa Usai Gagal Curi Motor di Parung
Presiden Prabowo Minta Dosen Terlibat dalam Proyek Giant Sea Wall
Kapolri Instruksikan Satgas Haji 2026 untuk Jamin Keamanan Jamaah
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Tangguh di Tengah Ketegangan Global