Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Kas Sendiri

- Selasa, 21 April 2026 | 19:35 WIB
Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Kas Sendiri

Di tengah hiruk-pikuk Spring Meeting di Washington DC, ada sebuah tawaran besar yang mengemuka. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap, Indonesia mendapat penawaran pinjaman segar dari IMF dan Bank Dunia. Nilainya tak main-main: 25 hingga 30 miliar dolar AS.

Tapi, tawaran itu ditolak. Tegas.

Alasannya sederhana sekaligus kuat: Indonesia dinilai sudah punya tameng yang cukup. Menurut Purbaya, cadangan kas negara yang ada sekarang sekitar USD25 miliar atau setara Rp428 triliun sudah memadai untuk menghadapi gejolak ekonomi global. “Saya bilang sama dia sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir USD25 miliar untuk negara kita sendiri, jadi aman,” ujarnya kepada para wartawan di Kemenkeu, Selasa lalu.

Reaksi dari pihak lembaga keuangan internasional itu pun digambarkannya dengan nada sedikit jenaka. “Wah mukanya (World Bank & IMF) asem, karena dia nggak bisa minjemin duit, nggak bisa dapet bunga tuh mereka,” cerita Purbaya. Namun begitu, dia menegaskan, dalam kondisi apapun, sumber daya yang dimiliki harus jadi senjata utama.

Di sisi lain, penolakan ini bukan tanpa perhitungan. Purbaya, yang kerap disebut sebagai Bendahara Negara, menekankan komitmen pemerintah untuk memaksimalkan sumber daya domestik. Setiap kebijakan fiskal, klaimnya, dirancang berdasarkan kalkulasi dampak yang mendalam. Bukan asal tebak.

“Kalau lebih kita pakai, kalau kurang juga kita pakai, pokoknya kita enggak pernah rugi. Jadi kita desain kebijakan dengan baik, kita hitung dampaknya, bukan dikira-kira,” tegasnya.

Intinya, pengelolaan dana cadangan akan terus dioptimalkan. Tujuannya jelas: menjaga pertumbuhan ekonomi tetap stabil meski dunia di luar sana sedang dilanda ketidakpastian, terutama oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang kian memanas. Langkah ini menunjukkan kepercayaan diri dan mungkin juga strategi yang berbeda dalam mengamankan stabilitas fiskal nasional.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar