Jakarta - Peringatan dini datang dari Badan Pusat Statistik. Mereka mengingatkan kita soal potensi kembalinya fenomena El Nino ekstrem, yang dijuluki "Godzilla El Nino". Kalau sampai benar-benar terjadi, dampaknya bisa serius. Sektor pertanian dan stabilitas harga pangan nasional diprediksi bakal terkena imbas langsung.
Menurut sejumlah analisis, cuaca anomali ini bisa bikin produktivitas pertanian anjlok. Dan itu artinya, stok bahan pokok bakal terpengaruh.
Sarpono, Direktur Statistik Harga BPS, mencoba menjelaskan dampak ekonominya dengan bahasa yang sederhana. Intinya, kalau produksi turun sementara permintaan tetap, hukum ekonomi akan bekerja.
"Secara teori, misal produksi tanaman kebutuhan sehari-hari terkendala, stok sedikit, ya prinsipnya harga cenderung naik. Permintaan kan tidak berubah. Jadi, pasti ada pengaruhnya," ujar Sarpono.
Pernyataan itu dia sampaikan dalam sebuah workshop untuk wartawan di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Di sisi lain, BPS menilai kemarau panjang yang jadi teman setia El Nino harus jadi alarm. Pemerintah perlu segera menyusun strategi cadangan. Titik paling rawan? Ketersediaan komoditas pangan bergejolak atau volatile food. Itu yang paling gampang goyah.
Sarpono pun menekankan pentingnya langkah antisipasi. Bahkan, opsi impor untuk memenuhi stok dalam negeri harus dipersiapkan dari sekarang, jaga-jaga kalau produksi domestik benar-benar terganggu parah.
"Untuk kestabilan harga, mungkin perlu impor dan sebagainya. Itu bagian dari peringatan dini kita," kata dia.
Namun begitu, seberapa besar dampak Godzilla El Nino ini nantinya, masih jadi tanda tanya. Secara teori, fenomena ini bisa mendorong inflasi dari dua sisi: dorongan biaya produksi dan tarikan permintaan. Tapi, sejauh mana efeknya akan merembet ke ekonomi makro Indonesia? Itu masih perlu pengukuran lebih lanjut. Belum ada angka pastinya.
Hingga saat ini, BPS mengaku masih terus memantau kondisi di lapangan. Mereka ingin melihat langsung bagaimana pergeseran musim memengaruhi pola tanam dan waktu panen para petani.
"Tapi secara teori, ada push ada pull terkait inflasi, itu bisa berpengaruh. Hanya, sejauh mana pengaruhnya, belum kami ukur saat ini," pungkas Sarpono.
Jadi, situasinya masih waspada. Menunggu dan mempersiapkan.
Artikel Terkait
Investasi Kuartal I 2026 Lampaui Target, Capai Rp498,79 Triliun
Telkom Pacu Kesetaraan Gender, Targetkan 32% Karyawan Perempuan pada 2030
Roy Suryo Akui Terima Bayaran Sebagai Brand Ambassador Buku Gibran End Game
Indonesia Tolak Tawaran Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Kas Sendiri