Ancaman Tarif Tinggi Trump Dorong Banyak Negara Beli Minyak Rusia

- Senin, 20 April 2026 | 22:40 WIB
Ancaman Tarif Tinggi Trump Dorong Banyak Negara Beli Minyak Rusia

Trump Ancam Kenakan Tarif Tinggi, Negara Pembeli Minyak Rusia Bertambah

Jakarta - Daftar negara yang membeli minyak dari Rusia tampaknya akan terus bertambah. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengancam akan menghukum negara-negara pengimpor minyak Rusia dengan mengenakan tarif impor yang sangat tinggi. Ancaman ini bukan main-main.

India sudah merasakan dampaknya. Negeri Bollywood itu baru saja dikenai tarif tambahan sebesar 25%, sehingga total tarif yang harus dibayar mencapai 50%. Langkah ini jelas membuat sejumlah negara lain was-was.

Lalu, siapa saja yang selama ini menjadi pembeli setia minyak Rusia? China, tentu saja, menduduki puncak daftar sebagai importir terbesar. Tapi bukan cuma mereka.

Ada juga Belanda, Turki, Italia, dan Korea Selatan. Negara-negara Eropa seperti Bulgaria, Finlandia, dan Polandia juga tercatat sebagai pembeli. Mereka sepertinya tak mau ketinggalan mendapatkan minyak dengan harga yang relatif lebih murah.

Di sisi lain, dari kawasan Asia Tenggara, geliatnya justru semakin kencang. Indonesia sendiri sudah menyatakan kesiapannya.

"Kalau untuk crude (minyak mentah) mungkin bulan-bulan ini bisa jalan. Insyaallah sudah bisa dikirim ke sini. Kalau LPG masih dalam tahap finalisasi," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Menurut Bahlil, tambahan pasokan dari Rusia ini bakal memperkuat cadangan BBM dalam negeri. Kabarnya, pengiriman bisa dilakukan dalam bulan ini juga.

Tak hanya Indonesia, Malaysia pun ikut mengumumkan niatnya untuk memburu minyak dari Rusia. Langkah ini membuat antrian negara ASEAN di "pom bensin" Rusia semakin panjang.

Sebelumnya, Filipina dan Vietnam sudah lebih dulu mengambil langkah serupa. Upaya mereka ini bukan tanpa alasan. Semua terjadi di tengah krisis energi global yang memanas.

Krisis itu sendiri dipicu konflik AS-Israel yang menyerang Iran dalam 8 pekan terakhir. Situasi yang serba tidak pasti ini, rupanya, mendorong banyak negara mencari sumber energi alternatif meski harus berhadapan dengan ancaman tarif dari AS.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar