Wall Street dibuka dengan suasana hati yang beragam hari Senin (20/4/2026). Setelah reli spektakuler pekan lalu, sentimen positif investor mulai diuji. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran kembali memanas, mengancam gagalnya gencatan senjata yang baru saja dibicarakan.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq, yang sebelumnya mencetak rekor tertinggi, sedikit melemah di awal perdagangan. Menurut data yang dilaporkan Reuters, S&P 500 (.SPX) turun 0,10 persen ke level 7.118,77. Nasdaq Composite (.IXIC) juga ikut merosot 0,24 persen. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average (.DJI) justru bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,01 persen, ditopang oleh saham-saham perbankan seperti Goldman Sachs dan JPMorgan Chase.
Gejolak ini berawal dari langkah Iran yang terkesan maju-mundur. Jumat lalu, mereka membuka Selat Hormuz jalur vital untuk pengiriman minyak global. Langkah itu disambut pasar dengan euforia. Namun, optimisme itu cepat menguap.
AS dikabarkan menyita kapal kargo Iran yang mencoba menerobos blokade. Merespons hal itu, Teheran pun kembali menutup selat tersebut. Situasi jadi makin rumit ketika Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tidak ada rencana untuk putaran kedua negosiasi dengan Washington.
Lizzy Galbraith, seorang ekonom politik senior di Aberdeen, mencoba membaca situasi yang berbelit ini.
"Salah satu penjelasannya mungkin ada kekosongan kekuasaan di jantung pemerintahan Iran. Bisa juga kedua belah pihak cuma mau menunjukkan taring sebelum pembicaraan berikutnya, padahal sebenarnya mereka masih ingin deal," ujarnya.
Akibat ketegangan itu, harga minyak melonjak hingga 5 persen. Sektor energi pun ikut terdongkrak, naik 0,9 persen. Tapi, kenaikan di satu sisi diimbangi tekanan di sektor lain. Saham-saham teknologi di S&P 500 terlihat lesu, meski Apple berhasil naik 1,4 persen.
Yang cukup menarik, saham Marvell Technology melonjak 4,4 persen. Kabarnya, perusahaan itu sedang dalam pembicaraan dengan Google untuk mengembangkan chip baru yang dirancang khusus untuk model AI. Berita itu cukup memberi angin segar di tengah tekanan geopolitik.
Namun begitu, kecemasan investor terlihat nyata. Indeks Volatilitas CBOE (.VIX) sering disebut "pengukur ketakutan" Wall Street melonjak ke level tertinggi dalam seminggu. Indeks untuk perusahaan kecil, Russell 2000, juga mengalami penurunan setelah sempat sentuh rekor.
Jadi, pasar saham sepertinya sedang menahan napas. Setelah pekan yang gemilang, investor kini kembali dihadapkan pada realitas yang keras: geopolitik masih jadi pemain utama yang bisa mengubah suasana dalam sekejap.
Artikel Terkait
Ancaman Tarif Tinggi Trump Dorong Banyak Negara Beli Minyak Rusia
TOBA Tetap Bagikan Dividen USD8,89 Juta Meski Rugi Bersih 2025 Capai USD162 Juta
Aset Investasi Tembus Rp1.084 Triliun, tapi Kontribusi ke PDB Masih Kalah Jauh dari Tetangga
Pemerintah Jajaki Impor Plastik Kemasan dari Malaysia Antisipasi Krisis Global