Wali Kota Semarang Soroti Kontribusi Nyata Perempuan di Balik Capaian IPG 78,71

- Selasa, 21 April 2026 | 22:35 WIB
Wali Kota Semarang Soroti Kontribusi Nyata Perempuan di Balik Capaian IPG 78,71

Di halaman Balai Kota Semarang yang ramai, Wali Kota Agustina Wilujeng berdiri di depan podium. Suaranya lantang mengumandangkan kabar baik: Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) kota itu telah mencapai 78,71. Angka itu, menurutnya, bukan sekadar statistik. Ia adalah cerminan nyata dari semakin kuatnya peran perempuan dalam membangun kota.

Pernyataan itu disampaikannya dalam upacara peringatan Hari Kartini ke-147. Agustina tak mau berlama-lama dengan angka-angka. Ia langsung menunjuk pada kontribusi konkret yang menjadi tulang punggung capaian tersebut.

"Ketika saya diundang di California State University, mereka sangat mengapresiasi bagaimana para kader Posyandu mampu menjaga kesehatan masyarakat di sekitarnya," ujar Agustina, Selasa (21/4/2026).

"Ini menjadi contoh bagaimana rasa tanggung jawab sosial bisa tumbuh dari masyarakat," tambahnya.

Kira-kira 16.000 kader posyandu, mayoritas perempuan, disebutkannya sebagai pilar utama. Mereka bekerja sukarela, menjadi ujung tombak kesehatan warga. Praktik gotong royong inilah yang bahkan menarik perhatian akademisi dari jauh.

Namun begitu, kontribusi perempuan Semarang tak berhenti di situ. Lihatlah gerakan lingkungan Semarang Wegah Nyampah. Di sana, kader PKK dan komunitas perempuan aktif mengelola bank sampah. Aktivitas yang awalnya untuk kebersihan ini ternyata punya dampak ekonomi yang luar biasa. Perputaran uang dari sana disebut mencapai Rp 2,2 miliar. Angka yang tidak kecil.

Di sisi lain, komitmen pemerintah kota juga diperkuat lewat terbitnya 177 Kelurahan Ramah Perempuan dan Peduli Anak. Kelurahan-kelurahan ini tersebar di seluruh penjuru kota, dimaksudkan sebagai garda terdepan. Fungsinya jelas: memastikan perempuan dan anak punya ruang aman untuk berkembang sekaligus terlindungi.

Agustina menegaskan, capaian IPG ini menunjukkan satu hal penting. Perempuan Semarang sudah bergeser dari sekadar objek pembangunan. Kini, mereka adalah subjek utama perubahan. Momentum ini, katanya, harus dijaga.

Pemerintah kota akan terus mendorong perempuan untuk meningkatkan kapasitas diri. Juga berani mengambil peran lebih luas di berbagai sektor. Tujuannya agar tren positif pemberdayaan gender ini tidak mandek, tapi terus melaju ke depan.

"Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat, masyarakat menjadi tangguh, dan Kota Semarang akan semakin hebat," tutupnya, menekankan korelasi yang ia yakini betul.

Jadi, angka 78,71 itu memang patut disyukuri. Tapi di baliknya, ada cerita tentang ribuan kader posyandu, penggerak bank sampah, dan upaya sistematis di tingkat kelurahan. Semuanya bergerak, dan hasilnya mulai terlihat.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar