Makassar New Port ramai Selasa lalu. Bukan karena lalu lintas peti kemas yang padat, tapi karena kedatangan tamu penting dari Timur Tengah. Rombongan Abu Dhabi Ports Group (ADPG) menyambangi pelabuhan modern itu, menandai babak baru penjajakan kerja sama di sektor kepelabuhanan dan industri Indonesia Timur.
Kunjungan ini tak sendiri. Mereka datang bersama Alif Abadi, Direktur Utama PT Kawasan Industri Makassar (KIMA). Tujuannya jelas: melihat langsung peluang investasi dan kolaborasi logistik di wilayah yang kerap disebut sebagai gerbang Indonesia bagian timur ini.
Di sisi lain, pihak Pelindo Regional 4 pun tak tinggal diam. Executive Director 4-nya, Abdul Azis, beserta jajaran manajemen, langsung menyambut hangat rombongan yang di antaranya berisi Ghazi Masmoudi dan Huang Peng dari Business Development International Office ADPG, serta Vasco Mario Namara yang menangani pengembangan bisnis ADPG di Indonesia.
Agendanya diawali dengan pertemuan tertutup di kantor Makassar New Port. Udara ruang rapat terasa penuh dengan pembahasan serius. Mulai dari penguatan konektivitas antar pelabuhan, pengembangan logistik, hingga potensi investasi yang bisa digarap bersama. Intinya, bagaimana memaksimalkan peran Makassar sebagai simpul distribusi utama.
Ghazi Masmoudi dari ADPG mengaku terkesan. Ia menyebut kunjungan ini adalah langkah awal yang penting.
“Kami melihat Makassar punya posisi yang sangat strategis dalam jaringan logistik regional. Infrastruktur pelabuhannya modern, didukung kawasan industri yang mumpuni. Faktor-faktor ini kunci untuk mendorong efisiensi rantai pasok dan membuka peluang kerja sama ke depan,” ujar Masmoudi.
Sentimen serupa diungkapkan Alif Abadi dari KIMA. Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pelabuhan dan kawasan industri bukan sekadar wacana, tapi sebuah keharusan.
“Integrasi ini perannya krusial untuk meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya di timur Indonesia. Dengan dukungan infrastruktur seperti Makassar New Port, kami yakin kawasan industri di sini bisa berkembang lebih kompetitif dan menarik minat investor global,” kata Alif.
Abdul Azis dari Pelindo punya penjelasan yang gamblang. Ia menegaskan bahwa Makassar New Port memang dirancang sebagai proyek strategis nasional. Kehadiran investor sekelas ADPG, baginya, adalah cermin kepercayaan dunia terhadap kesiapan infrastruktur Makassar.
“Pelabuhan ini dibangun untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan perdagangan internasional di kawasan timur. Kami menyambut baik kunjungan ini sebagai upaya membuka peluang kerja sama dan memperkuat posisi Makassar sebagai hub logistik regional,” jelas Azis.
Ia menambahkan, pengembangan pelabuhan modern sekarang ini tak cuma soal menambah kapasitas. Lebih dari itu, efisiensi layanan dan keterhubungan yang mulus dengan kawasan industri di sekitarnya menjadi poin yang tak kalah vital.
Pertemuan di ruang rapat akhirnya berakhir. Namun agenda belum usai. Rombongan diajak turun langsung ke lapangan, meninjau operasional Terminal Petikemas Makassar (TPM) atau yang dikenal sebagai TPK New Makassar 1. Mereka melihat dari dekat fasilitas dan aktivitas bongkar muat yang berjalan.
Menurut sejumlah saksi, kunjungan lapangan ini berlangsung cukup intens. Para tamu tampak antusias mengamati setiap detail operasional.
Harapannya jelas. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan tahap awal dari sebuah penjajakan kerja sama strategis. Sinergi antara Pelindo, pengelola kawasan industri, dan mitra internasional seperti ADPG diharapkan bisa menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan, khususnya untuk Indonesia Timur. Peluangnya terbuka lebar. Sekarang, tinggal eksekusinya.
Artikel Terkait
Unhas Perkuat Pengawasan dengan Teknologi dan Aparat untuk UTBK 2026
Dua Tersangka Ditetapkan dalam Kasus Penikaman Ketua Golkar Maluku Tenggara
Buronan KKB Tewas Ditembak Satgas di Puncak Jaya
Polisi Tasikmalaya Bongkar Jaringan Perburuan dan Penjualan Trenggiling