Mungkin inilah tasbih mereka. Suara yang tak kita pahami, tapi terdengar jelas oleh Sang Pencipta. Pohon yang tampak diam ternyata tak pernah benar-benar diam. Akarnya menghisap air, batangnya menahan terpaan angin, daun-daunnya menari mengikuti perintah-Nya. Semuanya tunduk tanpa ragu.
Lalu teringat juga sebuah hadis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda bahwa ada batu di Makkah yang memberi salam kepada beliau bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi.
Kalau batu saja bisa mengenali dan memuliakan utusan Allah, apalagi pohon yang hidup dan tumbuh?
Aku berdiri di tepi kolam itu dengan perasaan takjub yang sulit diungkapkan. Alam ternyata tidak bisu seperti yang sering kita kira. Mereka bertasbih, mereka patuh, mereka bergerak dalam ketetapan-Nya. Sementara kita, manusia yang punya akal dan hati, justru sering lalai.
Sekarang, pohon-pohon itu tak lagi kulihat sekadar kayu dan daun. Mereka adalah makhluk Allah yang taat. Mungkin mereka sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana: bahwa setiap ciptaan punya caranya sendiri untuk menyembah Tuhan.
Dan suara derit kayu yang kudengar hari itu? Bisa jadi itulah tasbih yang tak pernah berhenti pujian kepada Allah dalam bahasa yang tak mampu kita ucapkan.
Artikel Terkait
Derita Warga Sawangan Usai Bentrok Suporter Ricuhkan Malam Minggu
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake