Tasbih di Rindang Hutan Prancis: Bisikan Iman dari Batang Kayu

- Rabu, 26 November 2025 | 16:40 WIB
Tasbih di Rindang Hutan Prancis: Bisikan Iman dari Batang Kayu
Renungan di Hutan Prancis

Senja mulai merambat di hutan Isère, Prancis, menebar keteduhan yang menenangkan. Angin berhembus lembut menyentuh dedaunan, sementara cahaya matahari sore menyelinap di antara ranting-ranting pohon. Rasanya seperti berada di taman yang dijaga malaikat sunyi, tapi penuh dengan kehidupan yang tak terlihat mata.

Tiba-tiba, perjalananku terhenti. Di tengah rimbunnya pepohonan, sebuah kolam besar muncul. Airnya jernih sekali, memantulkan langit dan warna-warni cokelat daun musim gugur. Yang paling mencolok adalah pohon-pohon tinggi yang batangnya muncul dari dalam air. Mereka adalah bald cypresses. Tampak kokoh, tua, dan seolah menjadi penjaga zaman yang bisu.

Gunakan headset untuk pengalaman mendengar yang lebih jernih.

Aku mendekat, dan tiba-tiba... terdengar suara samar. Seperti kayu berderit pelan. Creeeak… creeaak. Awalnya kupikir itu cuma angin atau ranting patah. Tapi suara itu terus berulang, teratur, punya ritmenya sendiri.

Dengan alat rekam yang kubawa, kutempelkan mikrofon pada batang pohon. Satu menempel di kayu, satunya lagi kumasukkan ke dalam air. Dan di situlah aku mendengarnya suara kehidupan dari dalam tubuh pohon. Ada gesekan, detak pelan, gerakan lembut setiap kali angin menyentuhnya.

Hati ini langsung bergetar. Teringat akan firman Allah:

"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka."
(QS. Al Isra 44)

Mungkin inilah tasbih mereka. Suara yang tak kita pahami, tapi terdengar jelas oleh Sang Pencipta. Pohon yang tampak diam ternyata tak pernah benar-benar diam. Akarnya menghisap air, batangnya menahan terpaan angin, daun-daunnya menari mengikuti perintah-Nya. Semuanya tunduk tanpa ragu.

Lalu teringat juga sebuah hadis. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda bahwa ada batu di Makkah yang memberi salam kepada beliau bahkan sebelum diangkat menjadi Nabi.

Kalau batu saja bisa mengenali dan memuliakan utusan Allah, apalagi pohon yang hidup dan tumbuh?

Aku berdiri di tepi kolam itu dengan perasaan takjub yang sulit diungkapkan. Alam ternyata tidak bisu seperti yang sering kita kira. Mereka bertasbih, mereka patuh, mereka bergerak dalam ketetapan-Nya. Sementara kita, manusia yang punya akal dan hati, justru sering lalai.

Sekarang, pohon-pohon itu tak lagi kulihat sekadar kayu dan daun. Mereka adalah makhluk Allah yang taat. Mungkin mereka sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana: bahwa setiap ciptaan punya caranya sendiri untuk menyembah Tuhan.

Dan suara derit kayu yang kudengar hari itu? Bisa jadi itulah tasbih yang tak pernah berhenti pujian kepada Allah dalam bahasa yang tak mampu kita ucapkan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar