SulawesiPos.com – Kegeraman meluap dari tubuh Partai NasDem di Kabupaten Bone. Pemicunya? Sebuah pemberitaan majalah Tempo yang mereka nilai ngawur dan berat sebelah.
Semua ini berawal dari sampul majalah yang mengangkat wacana merger antara NasDem dan Partai Gerindra pimpinan Presiden Prabowo Subianto. Menurut pengurus setempat, narasi yang dibangun terasa sangat tendensius. Bahkan, mereka khawatir berita seperti ini bisa menciptakan persepsi yang salah di mata publik.
“Isinya sama sekali nggak proporsional, cuma mau giring opini aja,” ujar Ketua Fraksi NasDem DPRD Bone, H Muslimin, Rabu (15/4/2026).
Dia melanjutkan dengan nada kesal, “Yang bikin kami gerah, foto Ketua Umum kami, Pak Surya Paloh, ditampilkan dalam konteks yang nggak pas. Ini jelas merendahkan marwah beliau.”
Menurut Muslimin, sampai detik ini, tak ada sedikitpun pembicaraan resmi soal penggabungan partai seperti yang diberitakan. Semuanya masih di level wacana. Karena itulah, mereka mendesak Tempo untuk lebih berhati-hati. Prinsip jurnalisme yang berimbang dan akurat harusnya jadi pedoman utama, bukan malah menyebarkan spekulasi yang bisa merugikan.
“Fungsi media kan mencerahkan, bukan malah menyesatkan,” tegas Wakil Ketua DPW NasDem Sulsel itu.
Di tengah tekanan itu, politisi asal Bone Selatan ini lantas membacakan pernyataan sikap resmi partainya. Isinya mencakup lima poin kunci.
Pertama, penolakan keras terhadap framing pemberitaan yang dianggap menyesatkan dan menghakimi. Kedua, kecaman atas narasi yang merendahkan partai politik. Mereka menegaskan, partai adalah wadah perjuangan ide, bukan entitas bisnis yang bisa digabung-sebagaimana merger perusahaan.
Lalu yang ketiga, mereka mengingatkan soal tanggung jawab di balik kebebasan pers. Akurasi dan etika jurnalistik jangan sampai dilupakan. Poin keempat, mereka mendesak klarifikasi terbuka dan evaluasi terhadap produk jurnalistik yang dinilai melanggar etika.
Terakhir, poin kelima, seluruh kader NasDem Bone siap berkonsolidasi. Ini sebagai bentuk respons moral dan politik terhadap narasi yang mereka rasa bisa merusak kepercayaan publik.
Tak lupa, masyarakat juga diimbau untuk lebih kritis. Jangan mudah terbawa arus pemberitaan sensasional, tapi hadapi dinamika politik dengan kepala dingin.
“Kami tetap solid dengan DPP. Kritik itu biasa dalam demokrasi, tapi kalau sudah memanipulasi persepsi, itu bahaya. Harus kita lawan,” pungkasnya tegas. (kar)
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Besi Rel Bekas KAI di Jombang, Oknum Pegawai Terlibat
Polres Gowa Tangkap Pemuda Diduga Perkosa dan Sebar Foto Korban Remaja
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Usai Imbang Lawan Sporting
Nenek 85 Tahun Penjual Cilok Raih Impian Haji dari Tabungan Receh Harian