Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin, 1 Juni 2026. Mata uang Garuda melesat 76 poin atau setara 0,43 persen ke posisi Rp17.805 per dolar AS, didorong oleh sejumlah sentimen global yang masih membayangi pasar keuangan.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah terjadi di tengah kewaspadaan pelaku pasar. Pasalnya, negosiasi mengenai gencatan senjata permanen antara Washington dan Teheran belum menunjukkan tanda-tanda terobosan berarti. Meskipun laporan pekan lalu menyebutkan kedua pihak tengah membahas perpanjangan gencatan senjata sementara serta pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, sejumlah isu kunci masih belum terselesaikan.
"Setiap kesepakatan akhir masih memerlukan persetujuan dari Presiden AS Donald Trump," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Di sisi lain, kekhawatiran baru muncul terkait ranjau yang tersebar di jalur pelayaran utama minyak dan gas, Selat Hormuz. Analis IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan menyebutkan bahwa kondisi ini dapat memperlambat proses pembukaan kembali selat tersebut. Akibatnya, bantuan bagi pasar minyak diperkirakan datang lebih lambat, bahkan setelah jalur itu dinyatakan kembali beroperasi.
Seorang reporter Axios melaporkan melalui platform X pada Jumat, 29 Mei 2026, bahwa Iran telah menjatuhkan lebih banyak ranjau di selat tersebut awal pekan lalu. Langkah itu dilakukan tak lama setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa upaya pemasangan ranjau tambahan akan melanggar gencatan senjata. Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima aliran minyak dan gas global. Iran secara efektif telah menutupnya sejak konflik dengan serangan AS dan Israel dimulai pada Februari lalu.
Situasi kian memanas setelah Israel memperluas operasi militer di Lebanon yang menyasar kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Eskalasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa ketegangan regional dapat kembali meledak. Harga minyak mentah pun pulih pada Senin menyusul langkah militer terbaru Israel, memperkuat kekhawatiran bahwa biaya energi dapat tetap tinggi dan mempersulit upaya Federal Reserve dalam memerangi inflasi.
"Investor semakin mengalihkan fokus ke kemungkinan pengetatan moneter AS lebih lanjut. Sebelum perang dimulai, mereka sebelumnya mengharapkan pemotongan suku bunga," imbuh Ibrahim.
Para pelaku pasar kini mencermati pidato para pejabat Federal Reserve serta data ekonomi AS yang akan datang, termasuk indikator pasar tenaga kerja, untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai prospek suku bunga.
Dari sentimen domestik, aturan baru yang mewajibkan eksportir sumber daya alam untuk merepatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke dalam negeri dengan kepatuhan penuh turut menjadi perhatian. Ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 tentang Perubahan Ketiga Atas PP Nomor 36 Tahun 2023. Aturan tersebut mulai berlaku pada 1 Juni 2026.
Dalam beleid itu disebutkan bahwa eksportir sumber daya alam wajib merepatriasi DHE ke dalam negeri dengan tingkat kepatuhan secara penuh atau 100 persen. Eksportir nonmigas diwajibkan menempatkan seluruh DHE SDA pada rekening khusus di dalam negeri selama minimal 12 bulan. Sementara itu, untuk eksportir migas, kewajiban penempatan minimal 30 persen DHE SDA berlaku selama tiga bulan. Adapun konversi valas DHE SDA ke rupiah akan dibatasi maksimal 50 persen.
Pemerintah memberikan waktu hingga awal 2027 bagi para eksportir untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan ekspor satu pintu yang mulai berlaku secara bertahap pada 1 Juni 2026. Selama masa transisi, pelaksanaan kebijakan akan dievaluasi dalam tiga bulan pertama sebagai dasar penyusunan tahapan implementasi berikutnya. Evaluasi pada masa awal penerapan diperlukan untuk memastikan mekanisme baru ini dapat berjalan efektif tanpa mengganggu aktivitas ekspor maupun kepastian usaha. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi landasan bagi pemerintah dalam menentukan langkah lanjutan menuju implementasi penuh kebijakan ekspor satu pintu yang ditargetkan berlaku paling lambat pada 1 Januari 2027.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya akan fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Terima Wakil PM Qatar di Istana Merdeka, Perkuat Kerja Sama Strategis
KPK Tunda Pelimpahan Berkas Korupsi Kuota Haji hingga Ibadah Haji Selesai
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran, Jarak Luncur Tak Terpantau Akibat Kabut
Hingga Akhir Mei 2026, 13,59 Juta SPT Tahunan Masuk, Karyawan Mendominasi