Di ruang audiensi Museum Nasional, Jakarta, Selasa lalu, Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono atau yang akrab disapa Ibas berbicara cukup blak-blakan. Baginya, seni dan budaya kreatif bukan sekadar warisan untuk dikenang. Itu adalah identitas bangsa sekaligus kekuatan ekonomi yang nyata. Dan Indonesia, dengan sejarahnya yang kaya, punya modal besar di sana.
“Potensi kita luar biasa,” ujar Ibas, Kamis (16/4/2026), menegaskan kembali poinnya.
“Lihat saja, dari tari, musik, sampai seni rupa dan pertunjukan. Kekayaan ini harus kokoh di dalam negeri dulu, baru kemudian kita pacu ke kancah internasional.”
Pernyataan itu disampaikannya dalam acara bertajuk 'Seni Budaya Kreatif Sebagai Identitas Bangsa', yang digelar menyambut Hari Seni Sedunia. Forum itu sendiri dihadiri banyak pelaku seni, berubah menjadi semacam ruang dialog yang cair untuk membahas masa depan seni dalam pembangunan nasional.
Menurut Ibas, menguatkan industri kreatif punya dua dampak sekaligus. Di satu sisi, ia menegaskan jati diri. Di sisi lain, ia membuka peluang ekonomi yang lebar, mengisi ruang industri hiburan baik lokal maupun global. Nah, di titik inilah ia menyoroti peran generasi muda.
“Mereka tidak boleh cuma mengagumi budaya luar. Harus ikut mencintai, menjaga, dan yang penting, mengembangkan budaya kita sendiri,” ajaknya.
“Tujuannya bukan cuma melestarikan, tapi juga memajukan. Kita ingin mempercepat manfaat dari budaya ini,” tegas Ibas.
Namun begitu, pelestarian zaman sekarang tentu butuh pendekatan baru. Ibas menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas, terutama dalam menyelaraskan warisan budaya dengan era digital yang serba cepat. Tantangannya tidak kecil. Perkembangan teknologi seperti AI, NFT, atau galeri digital bisa jadi peluang besar, sekaligus ancaman jika salah kelola.
“Kuncinya ada pada kolaborasi,” ungkapnya.
“Antara tradisi, baik yang klasik maupun pop modern, dengan inovasi teknologi. Baru setelah itu seni budaya kita bisa tetap relevan dan bersaing di pasar global.”
Ia juga tak menutup mata soal masalah yang dihadapi para pekerja seni. Akses pasar yang terbatas, apresiasi ekonomi yang masih rendah, hingga perlindungan hak kekayaan intelektual yang kerap abu-abu. Baginya, sektor seni bukan cuma soal ekspresi artistik belaka. Ini juga tentang mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan.
“Mereka harus dapat perlindungan dan kebijakan yang berpihak. Baru bisa berkarya dengan tenang,” imbuhnya.
Lalu, apa solusinya? Ibas mengusulkan beberapa langkah strategis. Mulai dari promosi lintas negara, mengoptimalkan peran BUMN di sektor pariwisata dan kebudayaan, sampai meningkatkan kualitas SDM seperti kurator dan pemandu wisata. Perhatian khusus juga ia berikan pada pengelolaan museum.
“Museum harus jadi tempat yang hidup, bukan ruang statis. Dengan teknologi, kita bisa menghadirkan pengalaman yang lebih menarik dan edukatif,” ujarnya.
Baginya, seni adalah penerus peradaban sekaligus instrumen pemersatu bangsa.
“Ini bahasa universal yang bisa tembus batas apa pun. Seni bukan cuma simbol identitas, tapi juga cerminan nilai toleransi, inklusivitas, dan keadilan sosial,” tambah Ibas.
Dalam forum itu, suara para pelaku seni juga bergema. Bayu Genia Chrisby dari Galeri Nasional menyoroti keterbatasan infrastruktur galeri. Dari Yayasan Titimangsa, Pradetya Novitri mengakui minat pada teater memang tumbuh, tapi dukungan negara harus konsisten.
Dewi Ratna Ningsih, Putri Indonesia 2025, menekankan pentingnya jaminan kesejahteraan, termasuk asuransi, bagi para seniman.
Nyoman Trianawati menyoroti kebutuhan ruang dan dana untuk tari tradisional. Sementara Kathalizsa dan Agung Sentausa membahas soal akses pendanaan yang sulit, manajemen seni yang masih lemah, serta regulasi ketenagakerjaan yang perlu diperbarui agar sesuai dengan dinamika industri kreatif.
Pandangan-pandangan itu seperti menegaskan satu hal: sinergi antara pemerintah, legislatif, dan komunitas seni mutlak diperlukan. Fraksi Partai Demokrat sendiri menyodorkan sejumlah pandangan, antara lain soal program Dana Indonesiana 2.0 dan urgensi regulasi yang melindungi hak kekayaan intelektual.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Ibas menyerahkan bantuan simbolis kepada Kepala Museum Nasional, Indira Estianty Nurjadin. Bantuan itu diharapkan bisa mendukung operasional dan pengembangan museum ke depan. Usai seremonial, Ibas mengajak peserta meninjau museum, mencoba fitur interaktif 'Paras Nusantara' yang berbasis AI, hingga melihat koleksi ikonik seperti Arca Bhairawa dan fosil Homo erectus yang akhirnya pulang setelah lebih dari 130 tahun.
Acara ini pada akhirnya menegaskan satu hal: penguatan seni dan budaya bukan cuma tugas pemerintah. Butuh dukungan dari swasta, masyarakat, dan lembaga budaya. Kolaborasi itulah yang akan membangun ekosistem berkelanjutan, mendorong Indonesia menjadi pusat kebudayaan kreatif di kawasan, bahkan dunia.
Turut hadir dalam kesempatan itu sejumlah anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, seperti Marwan Cik Asan, Sabam Sinaga, Iman Adinugraha, dan Anita Jacoba Gah.
Artikel Terkait
Buronan Sabu 58 Kg Ditangkap di Jambi Setelah 6 Bulan Hilang
Guru Besar Jayabaya Desak Revisi UU Kepailitan, Fokus pada Restrukturisasi Daripada Likuidasi
Nenek 72 Tahun di Subang Tewas Terikat, Diduga Korban Perampokan
Komisaris Utama PT PAL Bengawan Kamto Ditahan Usai Putusan Hakim