Kesepakatan antara Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain itu kemudian diikuti Sudan dan Maroko. Amerika, yang jadi dalang di balik layar, berharap negara-negara Muslim lain termasuk Arab Saudi dan bahkan Indonesia ikut meramaikan.
Namun begitu, inti sebenarnya dari perjanjian itu cuma satu: mengakhiri isolasi diplomatik Israel di dunia Arab dan Islam. Caranya? Dengan memuluskan normalisasi hubungan, diselingi iming-iming perdamaian dan kerja sama di bidang perdagangan, teknologi, bahkan militer.
Kita berharap pemerintah Indonesia tidak terjebak. Jangan sampai ada penandatanganan apa pun dengan Israel termasuk soal penempatan tentara perdamaian kita di Gaza. Kalau sampai itu terjadi, sama saja kita mengakui negara penjajah itu. Padahal prinsip kita sudah jelas: selama Israel masih menduduki Palestina dan menolak keberadaan negara Palestina, selama itu pula kita tak akan membuka hubungan diplomatik dengan rezim Zionis tersebut.
Artikel Terkait
Lapangan Gaspa Palopo Resmi Dibuka Usai Revitalisasi Senilai Rp 3,5 Miliar
Dua Perempuan Diamankan Polisi Usai Video Penginjakkan Alquran Viral di Lebak
Harga Emas Pegadaian Stabil, Galeri24 dan UBS Tak Bergerak
Wakil Bupati Bone Lepas Kontingen MTQ, Targetkan Juara Umum di Tingkat Provinsi