Catatan Erizeli Jely Bandaro
Penerimaan pajak turun. Ini bukan cuma perasaan atau narasi oposisi. Bukan pula sekadar “sentimen global” yang kerap dijadikan kambing hitam. Data resmi negaralah yang bicara. Dan dalam ilmu ekonomi, ada hukum sederhana yang tak bisa dibantah oleh politisi paling lihai sekalipun: ketika penerimaan pajak anjlok, itu berarti aktivitas ekonomi sedang melemah.
Logikanya sesederhana itu. Ini bukan opini warung kopi, melainkan prinsip dasar fiskal. Negara hidup dari pajak. Kalau pajak melemah, tandanya mesin produksi berjalan pelan, konsumsi lesu, korporasi menahan napas, dan rumah tangga mengurangi belanja.
Namun begitu, di negeri yang dipenuhi influencer dan elite bermental bandit, fakta sederhana ini seringkali dipelintir jadi optimisme palsu. Tiba-tiba muncul jargon-jargon bombastis: ekonomi akan didorong tumbuh 6–7%. Ditanya didorong pakai apa? Pakai PowerPoint? Doa massal? Atau mungkin pakai bisingnya buzzer bayaran?
Menurut pengamatan, yang percaya ekonomi akan melesat 6–7% biasanya cuma dua tipe orang.
Pertama, mereka yang miskin harta. Hidupnya bergantung pada harapan, karena tak punya apa-apa lagi.
Kedua, mereka yang miskin literasi. Mereka tak paham beda antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan utang pemerintah.
Mereka sebenarnya tidak salah. Mereka cuma korban dari mimpi palsu yang ditiupkan oleh influencer berbayar dan elite yang sudah lama memperlakukan republik ini seperti mesin ATM pribadi.
Lalu, bagaimana faktanya di lapangan?
Penerimaan pajak netto turun 3,9% secara tahunan. Sementara restitusi malah naik 36,4%.
Artinya apa? Negara mengembalikan lebih banyak uang ke wajib pajak. Bisa karena aktivitas bisnis sedang lesu, atau karena ada overpayment yang harus dikoreksi.
Dirjen Pajak sendiri bilang, “Restitusi melonjak… sehingga penerimaan neto menurun.”
Itu bahasa birokrasi yang halus. Di balik kalimat rapi dan teknokratis itu, maknanya cuma satu: ekonomi lagi ngos-ngosan.
Memperbaiki situasi ini cuma bisa lewat disiplin fiskal yang nyata. Pangkas anggaran populis, fokus perbaiki iklim bisnis yang ramah, dan tegakkan hukum yang tak bisa dibeli. Cukup itu saja.
Tanpa langkah konkret, semua hanya omong kosong. Yang tumbuh cuma elite dan oligarki. Sementara rakyat kecil yang miskin harta dan miskin literasi akan terus percaya ekonomi bakal meroket 6–8%. Sebab, dalam negara yang sedang merosot, harapan palsu memang lebih menghibur ketimbang kenyataan pahit. Sayangnya, realitas fiskal tak bisa disogok dengan retorika.
Artikel Terkait
PDAM Makassar Ungkap Penyebab Krisis Air di Wilayah Utara: Sistem Gravitasi dan Penyedotan Liar
Jennae River Land di Pangkep Tawarkan River Tubing Mulai Rp20 Ribu
Cuaca Sulsel Cerah Berawan, Waspada Hujan Ringan di Sejumlah Daerah Jumat Ini
Raffi Ahmad Penuhi Amanah Terakhir Jupe, Bantu Ibunda yang Terpuruk Ekonomi