Lalu, bagaimana faktanya di lapangan?
Penerimaan pajak netto turun 3,9% secara tahunan. Sementara restitusi malah naik 36,4%.
Artinya apa? Negara mengembalikan lebih banyak uang ke wajib pajak. Bisa karena aktivitas bisnis sedang lesu, atau karena ada overpayment yang harus dikoreksi.
Dirjen Pajak sendiri bilang, “Restitusi melonjak… sehingga penerimaan neto menurun.”
Itu bahasa birokrasi yang halus. Di balik kalimat rapi dan teknokratis itu, maknanya cuma satu: ekonomi lagi ngos-ngosan.
Memperbaiki situasi ini cuma bisa lewat disiplin fiskal yang nyata. Pangkas anggaran populis, fokus perbaiki iklim bisnis yang ramah, dan tegakkan hukum yang tak bisa dibeli. Cukup itu saja.
Tanpa langkah konkret, semua hanya omong kosong. Yang tumbuh cuma elite dan oligarki. Sementara rakyat kecil yang miskin harta dan miskin literasi akan terus percaya ekonomi bakal meroket 6–8%. Sebab, dalam negara yang sedang merosot, harapan palsu memang lebih menghibur ketimbang kenyataan pahit. Sayangnya, realitas fiskal tak bisa disogok dengan retorika.
Artikel Terkait
Keringat Pagi dan Aroma Kopi: Ritual Sempurna di Tengah Kesibukan Kota
Presiden Iran Tuding AS dan Israel Dalangi Kerusuhan, Korban Jiwa Tembus 540 Orang
Banjir Rendam Gunung Sahari, Petugas dan Warga Bahu-Membahu di Tengah Genangan
Keculasan Politik yang Dibenarkan: Stabilitas atau Kedangkalan Demokrasi?