Setelah bertahun-tahun tinggal di antara nisan, akhirnya warga yang menghuni Tempat Permakaman Umum (TPU) Kebon Nanas, Jakarta Timur, bisa menghela napas lega. Mereka kini punya tempat tinggal baru: rumah susun. Rasa syukur itu jelas terlihat. Hidup di rusun, bagi mereka, adalah sebuah perubahan besar.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memberikan kabar baik. Warga yang direlokasi tak perlu bayar sewa untuk enam bulan pertama. Bahkan, untuk warga lanjut usia, kebebasan biaya sewa itu berlaku seumur hidup. Kebijakan ini tentu meringankan beban di awal mereka menata hidup kembali.
Berdasarkan data yang dihimpun, ada 103 kepala keluarga yang sebelumnya menempati area seluas 3.754 meter persegi di TPU itu. Namun begitu, tidak semua memilih pindah ke rusun. Sekitar 73 KK menyetujui relokasi. Sementara itu, 30 KK lainnya memutuskan untuk cari tempat tinggal sendiri. Alasannya beragam, mulai dari kedekatan dengan lokasi kerja sampai untuk menjaga usaha yang sudah dirintis.
Di sisi lain, relokasi ini bukan cuma soal memindahkan warga. Pramono menegaskan, langkah ini adalah upaya mengembalikan fungsi lahan pemakaman yang sudah benar-benar penuh. Faktanya, dari 80 TPU yang ada di Jakarta, 69 di antaranya sudah tidak bisa menampung jenazah baru. Akibatnya, pemakaman tumpang tindih kerap terjadi.
"Kebon Nanas ini sebenarnya sudah tidak bisa lagi," ujar Pramono.
"Dengan pengembalian fungsi lahan ini, nantinya bisa menampung kurang lebih 1.000 makam baru."
Jadi, selain memberi hunian layak, program ini juga menyelesaikan masalah klasik ibukota: keterbatasan lahan untuk yang hidup, dan juga untuk yang meninggal.
Artikel Terkait
Polisi Bekuk Pasutri Pemilik Wedding Organizer di Jakarta Timur, Istri Ternyata Residivis Penipuan Serupa
Kemenhag Rilis Jadwal Operasional Haji 1448 H/2027, Persiapan Dimulai Pertengahan 2026
Ibas Sampaikan Duka Mendalam SBY di Pemakaman Jenderal Ryamizard Ryacudu
Polisi Bongkar Penipuan Wedding Organizer di Jakarta Timur, Pasutri Jadi Tersangka