Kalau kamu perhatikan, pagi-pagi sekali di kota-kota besar sudah ramai dengan orang berlari. Ini bukan cuma soal olahraga, lho. Bagi banyak orang, lari pagi sudah jadi semacam ritual wajib. Sebuah cara untuk menyegarkan badan, menjernihkan pikiran, dan kadang, sekadar menikmati waktu untuk diri sendiri sebelum hari yang sibuk benar-benar dimulai.
Lari Pagi: Bukan Cuma untuk Kebugaran
Manfaat lari pagi tentu saja banyak. Dari sisi fisik, jantung dan paru-paru jadi lebih kuat, peredaran darah lancar, dan berat badan lebih terjaga. Tapi yang sering bikin orang ketagihan justru efek psikologisnya. Lari di pagi hari memicu keluarnya endorfin, hormon yang bikin perasaan jadi lebih baik dan rileks.
Di sisi lain, momen ini juga sering jadi saat untuk merenung. Udara yang masih bersih, suasana yang belum terlalu ramai, menciptakan ruang untuk menata pikiran. Entah itu merencanakan hari, atau sekadar menikmati kesunyian. Namun begitu, lari pagi juga punya sisi sosialnya. Komunitas lari tumbuh subur. Mereka lari bersama, saling menyemangati, dan hubungan pertemanan pun terjalin.
Dan setelah itu, biasanya ada ritual lanjutannya: ngopi.
Setelah berkeringat, secangkir kopi hangat terasa seperti hadiah. Kafein dalam kopi membantu mengembalikan energi. Tapi lebih dari sekadar stimulan, momen ngopi inilah yang bikin ritual pagi jadi lengkap. Rasanya seperti jeda yang memang dibutuhkan.
Artikel Terkait
Rp100 Miliar Uang Parkir Korupsi Haji Kembali, Daftar Tersangka Diprediksi Panjang
Dari Panggung Komedi ke Kisah Bahlul: Sindiran sebagai Senjata Kritik
Ibu Kota Belum Lepas dari Genangan, Ribuan Warga Masih Mengungsi
Eggi Sudjana dan Jurang Ambisi yang Menganga