Kerusuhan masih mengguncang Iran. Di tengah situasi yang memanas, Presiden Masoud Pezeshkian akhirnya angkat bicara dalam sebuah wawancara televisi, 11 Januari 2026. Wawancara itu digelar setelah beberapa minggu negara itu dilanda gelombang protes, yang awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi dan nilai mata uang yang anjlok.
Pezeshkian bersikap tegas. Ia membedakan dengan jelas antara aksi protes damai yang ia akui sebagai hak warga dengan aksi kekerasan yang ia sebut sebagai ulah "perusuh". Menurutnya, ada rencana terselubung di balik kekacauan ini.
"Tugas kami adalah mendengarkan keluhan yang sah dari rakyat," ujarnya.
"Namun, tugas tertinggi kami adalah mencegah para perusuh mengganggu ketenteraman masyarakat," lanjut Presiden.
Ia lalu menuding dengan keras. Aksi-aksi ekstrem, khususnya pembakaran masjid dan penodaan Al-Quran, disebutnya bukanlah spontanitas. Itu adalah bagian dari "konspirasi" yang didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel. Para pelakunya, yang ia sebut sebagai "teroris", diklaim dilatih dan dikerahkan dari luar negeri untuk memprovokasi. Tentang mereka yang membakar tempat ibadah, Pezeshkian berkata dengan nada geram, "Mereka bukan manusia."
Artikel Terkait
Rp100 Miliar Uang Parkir Korupsi Haji Kembali, Daftar Tersangka Diprediksi Panjang
Dari Panggung Komedi ke Kisah Bahlul: Sindiran sebagai Senjata Kritik
Ibu Kota Belum Lepas dari Genangan, Ribuan Warga Masih Mengungsi
Eggi Sudjana dan Jurang Ambisi yang Menganga