Pernyataan ini bukan datang di ruang hampa. Hanya sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sudah mengeluarkan peringatan keras: serangan militer bisa saja terjadi jika Iran terus menindak demonstran dengan kekerasan. Ketegangan internasional pun langsung meroket.
Menanggapi situasi itu, pemerintah Iran tak tinggal diam. Mereka menyerukan "pawai perlawanan nasional" di seluruh negeri pada tanggal 12 Januari, sebagai bentuk respons atas dugaan campur tangan asing tersebut.
Di sisi lain, laporan dari lapangan makin suram. Organisasi pemantau hak asasi manusia, HRANA, mencatat korban jiwa yang terus bertambah. Hingga tanggal 12 Januari, lebih dari 540 orang dilaporkan tewas. Angka itu mencakup ratusan demonstran dan puluhan anggota pasukan keamanan. Situasinya benar-benar genting.
Media pemerintah Iran sendiri terus menyoroti isu penodaan agama. Mereka menekankan bahwa pembakaran Al-Quran adalah garis merah yang tak bisa ditoleransi, sebuah tindakan yang sengaja dirancang untuk menyulut kebencian dan memecah belah masyarakat.
Jadi, narasi yang dibangun jelas. Di satu sisi, pemerintah mengaku memahami akar protes, yaitu masalah ekonomi. Tapi di sisi lain, mereka bersikukuh bahwa kekerasan yang terjadi adalah buah dari skema pihak asing yang ingin menghancurkan Iran dari dalam. Perbedaan antara demonstran dan "perusuh" menjadi kunci dalam setiap pernyataan resmi mereka.
Artikel Terkait
Tawaran Beasiswa Pramugari untuk Khairun Nisyah, Gadis Penyamar yang Viral
Kabut Tebal Lumpuhkan Soetta, Ratusan Penumpang Lion Group Terpencar ke Berbagai Kota
Pandji Sindir Jenderal, Raffi Ahmad Terseret dalam Pusaran Dugaan Pencucian Uang
Genangan 30 Cm Sempat Lumpuhkan Lalu Lintas di Depan WTC Mangga Dua