JAKARTA – Mulai tahun ini, cara daftar kartu perdana bakal berubah total. Lewat Kementerian Komunikasi dan Digital, pemerintah resmi mewajibkan registrasi SIM Card baru dengan sistem biometrik, alias pengenalan wajah. Nah, yang jadi pertanyaan, gimana sih praktiknya nanti?
Menurut Dian Siswarini, Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), prosesnya dirancang semudah mungkin buat masyarakat. Intinya, nggak perlu ribet.
“Jadi sebetulnya pendaftaran ini bisa dilakukan di mana saja,” ujar Dian dalam konferensi pers di Gedung Sarinah, Selasa (27/1/2026).
“Baik itu di handphone calon customer tersebut yang untuk mendaftar atau bisa juga tadi di gerai di outlet-outlet seperti itu. Jadi tidak terbatasi mereka harus datang ke gerai, bisa dilakukan di mana saja.”
Caranya? Bisa lewat E-Channel atau website yang bisa diakses via ponsel. Atau kalau kurang yakin dengan urusan digital, datang aja langsung ke gerai atau outlet operator terdekat. Pilihannya fleksibel.
Soal waktu, jangan khawatir. Dian bilang, proses biometrik ini cuma makan waktu kira-kira 30 detik saja. Cepat banget, kan? Dia menegaskan, ini justru dibuat untuk mempermudah, bukan mempersulit.
“Jadi insya Allah sih tidak menyusahkan ya, karena registrasinya juga prosesnya lumayan cepat ya. Hanya 30 detik, jadi tidak akan menyusahkan pelanggan, malah menurut saya lebih memudahkan,” katanya.
Untuk masa transisinya, aturan baru ini berlaku mulai Januari hingga Juni 2026. Artinya, masih ada waktu beberapa bulan buat penyesuaian.
“Dari mulai sekarang sampai nanti akhir Juni, mungkin kalau misalnya ada yang belum bisa lakukan itu jadi masih ada hybrid seperti itu,” jelas Dian.
“Tapi nanti akhir Juni itu sudah tidak bisa lagi melakukan registrasi dengan cara yang lama.”
Di sisi lain, ATSI sendiri sepenuhnya mendukung langkah ini. Alasannya jelas: keamanan. Dian menilai, sistem biometrik ini jadi senjata ampuh buat menekan kejahatan digital yang makin marak, seperti penipuan atau scamming lewat telepon seluler.
“Terutama masalah dari sisi keamanan, adanya scamming kemudian adanya penggunaan identitas yang mungkin tidak seharusnya,” paparnya.
“Nah, dengan adanya biometrik ini kita bisa meminimalisir problem-problem tersebut.”
Menurutnya, metode pengenalan wajah ini jauh lebih efektif ketimbang registrasi pakai KTP biasa. Soalnya, data biometrik itu unik dan sulit dipalsukan.
“Karena kan harus sudah kalau biometri kan nggak mungkin ini ya bisa dikloning. Kalau KTP kan masih bisa tuh fotonya diganti atau bagaimana. Tapi kalau biometri kan menggambarkan identitas orang tertentu,” ucap dia.
Itulah sebabnya, seluruh operator seluler di bawah ATSI diklaim sudah siap dengan sistemnya. Mereka sepakat, langkah ini perlu buat masa depan yang lebih aman di dunia digital.
Artikel Terkait
WhatsApp Bisa Diakses Tanpa Scan Kode QR, Pakar Ingatkan Risiko Penyadapan dan Pelanggaran Privasi
YouTube Batasi Akses Pengguna di Bawah 16 Tahun di Indonesia Patuhi PP Tunas
Peneliti Temukan Spesies Baru Laba-laba Hantu di Habitat Bambu Jawa
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa