Pemadaman Listrik Satu Jam di Jakarta Hemat 96,91 MWh, Harga Telur Justru Turun

- Minggu, 14 Juni 2026 | 05:15 WIB
Pemadaman Listrik Satu Jam di Jakarta Hemat 96,91 MWh, Harga Telur Justru Turun

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menerapkan pemadaman listrik selama satu jam pada Sabtu (13/6) malam, sebuah kebijakan yang menyasar sejumlah ikon ibu kota dan ruas jalan protokol sebagai bagian dari upaya penghematan energi dan pengurangan emisi karbon. Aksi yang berlangsung dari pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup 2026 ini menargetkan titik-titik strategis, termasuk Monumen Nasional (Monas) dan Bundaran Hotel Indonesia (HI). Inisiatif tersebut tidak hanya bertujuan menekan konsumsi listrik, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup hemat energi secara lebih luas.

Kebijakan serupa sebelumnya telah diterapkan pada Sabtu (25/4) dan mencatat hasil yang signifikan. Pemadaman listrik saat itu berhasil menghemat konsumsi listrik hingga 96,91 megawatt hour (MWh). Dampak ekonominya pun terlihat positif dengan efisiensi anggaran mencapai Rp140,22 juta, serta kontribusi dalam menekan emisi karbon hingga 77,53 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Langkah ini didasari oleh Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam tindakan sederhana seperti mematikan lampu yang tidak terpakai secara konsisten.

“Tindakan kecil ini dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan Jakarta,” kata dia.

Sementara itu, di sektor pangan, harga telur ayam ras di pasar tradisional Jakarta justru menunjukkan tren penurunan yang kontras dengan kondisi beberapa waktu sebelumnya. Per Sabtu (13/6), harga telur di Jakarta Pusat dan Jakarta Timur berada di kisaran Rp26.000 hingga Rp29.000 per kilogram, turun dari level di atas Rp30.000 per kilogram yang tercatat beberapa hari pasca-Lebaran Idul Adha. Di Pasar Rawasari, Cempaka Putih, telur bahkan dibanderol Rp26.000 hingga Rp27.000 per kg, lebih rendah dari Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat peternak yang ditetapkan Rp26.500 per kg.

Namun, penurunan harga ini tidak serta-merta mendongkrak minat beli masyarakat. Para pedagang justru melaporkan adanya penurunan volume penjualan, sebuah fenomena yang cukup kontradiktif. Sebelumnya, ketika harga telur berada di level yang lebih tinggi, yakni Rp31.000 hingga Rp32.000 per kg, para pedagang justru mencatat peningkatan penjualan. Data dari laman Info Pangan Jakarta juga menunjukkan harga telur ayam ras rata-rata Rp27.500 per kg pada hari ini, turun Rp426 dibandingkan hari sebelumnya.

Kondisi ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha di sektor peritel telur. Penurunan harga yang tidak diiringi dengan peningkatan volume penjualan mengindikasikan adanya pergeseran pola konsumsi atau daya beli masyarakat. Fenomena ini perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami dinamika pasar telur saat ini, terutama dalam kaitannya dengan kebiasaan konsumen dan kondisi ekonomi yang lebih luas.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar