Kenali 5 Gejala Awal Usus Buntu yang Sering Diabaikan, Nyeri Pindah ke Perut Kanan Bawah Jadi Tanda Khas

- Minggu, 14 Juni 2026 | 04:45 WIB
Kenali 5 Gejala Awal Usus Buntu yang Sering Diabaikan, Nyeri Pindah ke Perut Kanan Bawah Jadi Tanda Khas

Usus buntu atau apendisitis kerap tidak terdeteksi pada tahap awal karena gejalanya menyerupai sakit perut ringan atau gangguan pencernaan biasa. Padahal, kondisi ini dapat berkembang menjadi darurat medis yang mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Banyak pasien yang terlambat mendapatkan pertolongan karena mengabaikan tanda-tanda awal yang dianggap sepele.

Influencer kesehatan, dr Aditya Surya Pratama, mengingatkan bahwa pola nyeri pada usus buntu memiliki ciri khas yang perlu dikenali sejak dini. Menurutnya, gejala pertama yang sering muncul adalah nyeri di sekitar pusar atau ulu hati. Rasa sakit ini kerap disalahartikan sebagai masuk angin atau gangguan lambung biasa, sehingga banyak orang memilih menunda pemeriksaan.

“Awalnya itu biasanya nyeri di ulu hati atau di sekitar pusar. Lalu dalam beberapa jam itu berpindah ke perut kanan bawah,” kata dr Aditya.

Pergeseran nyeri ke perut kanan bawah menjadi tanda khas apendisitis, terutama jika rasa sakit semakin tajam saat berjalan, batuk, atau ditekan pada area tersebut. Sementara itu, gejala ketiga adalah mual dan muntah yang muncul bersamaan dengan nyeri perut. Kondisi ini terjadi akibat gangguan pada sistem pencernaan yang dipicu oleh peradangan di usus buntu.

Di sisi lain, hilangnya nafsu makan secara tiba-tiba juga patut diwaspadai. Penderita biasanya merasa tidak nyaman untuk makan meskipun sebelumnya tidak memiliki masalah pada pola makan. Gejala kelima adalah demam ringan hingga tinggi yang muncul seiring berkembangnya infeksi. Pada kondisi yang lebih berat, perut juga dapat terasa kaku sebagai tanda peradangan yang semakin parah.

Dokter Aditya menegaskan bahwa apendisitis terjadi akibat sumbatan pada usus buntu yang memicu pertumbuhan bakteri dan peradangan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan usus buntu pecah dan memicu infeksi serius di rongga perut.

“Kalau untuk terapinya, penanganan utama adalah operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi,” kata dr Aditya.

Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami kombinasi gejala tersebut. Penanganan yang lebih cepat dapat mencegah risiko komplikasi yang membahayakan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar