Klaim Iran mengenai tercapainya kesepahaman dengan Amerika Serikat dalam sebagian besar isu yang dibahas menuai skeptisisme dari kalangan akademisi. Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menilai pernyataan tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya dan justru berpotensi menjadi bagian dari strategi negosiasi kedua negara.
Menurut Hikmahanto, klaim sepihak yang dilontarkan Teheran kemungkinan besar akan dibantah oleh Presiden AS Donald Trump. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada dokumen kesepahaman yang secara resmi disepakati oleh kedua belah pihak.
“Berita tersebut kemungkinan dari pihak Iran, yang oleh Trump dikatakan tidak benar. Kalau benar sih, bagus sekali buat Iran,” ujar Hikmahanto saat dihubungi, Minggu (14/6/2026).
Hikmahanto menduga Iran tengah memainkan “kartu” serupa dengan apa yang kerap dilakukan Trump, yaitu mengklaim sesuatu secara sepihak sebelum akhirnya dibantah. Ia menambahkan, belum ada satu pun nota kesepahaman yang ditandatangani antara Iran dan AS.
“Jadi saat ini belum ada dokumen yang disepakati oleh kedua belah pihak. Iran sepertinya main kartu seperti Trump. Mengklaim saja sepihak biar nanti dibantah,” katanya.
Di sisi lain, Hikmahanto mengaku sulit memprediksi momentum yang dapat mendamaikan kedua negara. Ia meyakini konflik akan terus berlarut-larut tanpa titik temu yang jelas.
“Nah ini sulit diperkirakan. Bisa jadi tidak ada titik temu. Jadi mereka akan mengambangkan perang,” katanya.
Pernyataan berbeda sebelumnya disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB, Araghchi mengungkapkan bahwa usulan memorandum kesepahaman antara Iran dan AS akan secara resmi mengakhiri konflik di semua front, termasuk Lebanon. Dokumen yang disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad itu, menurutnya, akan meletakkan dasar bagi negosiasi tentang pencabutan sanksi, program nuklir, dan pengaturan keamanan regional.
“Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front, termasuk Lebanon,” katanya.
Araghchi menambahkan, usulan memorandum tersebut mencakup komitmen untuk tidak memulai perang, tidak mengancam penggunaan kekerasan, serta tidak mencampuri urusan internal masing-masing negara. Ia juga menyebut perjanjian itu akan memuat komitmen bersama untuk menghormati kedaulatan.
“Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran,” kata Araghchi.
Artikel Terkait
PSI Segera Sematkan Jaket Partai ke Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina
Luis Figo Hadir di Jakarta untuk Perkuat Hubungan Taktik Sepak Bola dengan Olahraga Berpikir
20.500 Pelari Ramaikan Hari Pertama BTN Jakarta International Marathon 2026
Komisi I DRI Sambut Positif Perkembangan Damai AS-Iran, Ingatkan Indonesia Perkuat Ketahanan Energi