Nyeri Perut Kanan Bawah Saat Jalan atau Batuk, Waspadai Gejala Usus Buntu

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:20 WIB
Nyeri Perut Kanan Bawah Saat Jalan atau Batuk, Waspadai Gejala Usus Buntu

Nyeri perut bagian kanan bawah yang semakin hebat saat berjalan, batuk, atau ditekan tidak boleh dianggap remeh. Kondisi ini bisa menjadi tanda awal apendisitis atau radang usus buntu yang memerlukan penanganan medis segera.

Dokter Aditya Surya Pratama, seorang influencer kesehatan, mengingatkan bahwa banyak orang kerap tidak menyadari gejala awal usus buntu. Sebab, nyeri sering kali bermula dari area sekitar pusar atau ulu hati sebelum akhirnya berpindah ke perut kanan bawah.

“Secara medis kondisi ini disebut appendicitis, yaitu peradangan pada apendiks atau usus buntu. Organ ini bentuknya kecil seperti kantong dan menempel di usus besar bagian kanan bawah,” kata dr Aditya.

Meskipun ukurannya kecil, peradangan pada apendiks dapat berkembang menjadi kondisi darurat yang berisiko menimbulkan komplikasi serius. Menurut dr Aditya, berdasarkan data penelitian dan berbagai jurnal bedah, apendisitis merupakan salah satu penyebab paling umum nyeri perut akut yang membutuhkan tindakan operasi, terutama pada remaja hingga dewasa muda.

Gejala apendisitis memiliki pola yang cukup khas. Pada tahap awal, penderita merasakan nyeri di ulu hati atau sekitar pusar. Dalam beberapa jam, rasa sakit kemudian berpindah ke perut kanan bawah dan semakin terasa saat tubuh bergerak.

“Biasanya nyerinya makin terasa saat jalan, batuk, atau ditekan,” ujar dr Aditya.

Selain nyeri perut, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, kehilangan nafsu makan, hingga demam yang muncul secara tiba-tiba. Pada kondisi yang lebih berat, perut bisa terasa kaku akibat peradangan yang semakin parah.

Salah satu penyebab apendisitis adalah sumbatan pada usus buntu. Sumbatan ini dapat dipicu oleh tinja yang mengeras atau pembengkakan jaringan limfoid. Akibatnya, bakteri berkembang biak di dalam kantong kecil tersebut, tekanan meningkat, dan akhirnya terjadi peradangan.

Jika tidak segera ditangani, usus buntu yang meradang berisiko pecah atau mengalami perforasi. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi menyebar ke seluruh rongga perut dan menimbulkan komplikasi serius yang membutuhkan operasi lebih besar.

“Penanganan utama adalah operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi. Bisa dilakukan dengan operasi terbuka atau laparoskopi yang lebih minimal invasif,” jelas dr Aditya.

Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami nyeri perut yang berpindah ke bagian kanan bawah, disertai mual, muntah, atau demam. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang lebih berbahaya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar