Catatan Erizeli Jely Bandaro
Penerimaan pajak turun. Ini bukan cuma perasaan atau narasi oposisi. Bukan pula sekadar “sentimen global” yang kerap dijadikan kambing hitam. Data resmi negaralah yang bicara. Dan dalam ilmu ekonomi, ada hukum sederhana yang tak bisa dibantah oleh politisi paling lihai sekalipun: ketika penerimaan pajak anjlok, itu berarti aktivitas ekonomi sedang melemah.
Logikanya sesederhana itu. Ini bukan opini warung kopi, melainkan prinsip dasar fiskal. Negara hidup dari pajak. Kalau pajak melemah, tandanya mesin produksi berjalan pelan, konsumsi lesu, korporasi menahan napas, dan rumah tangga mengurangi belanja.
Namun begitu, di negeri yang dipenuhi influencer dan elite bermental bandit, fakta sederhana ini seringkali dipelintir jadi optimisme palsu. Tiba-tiba muncul jargon-jargon bombastis: ekonomi akan didorong tumbuh 6–7%. Ditanya didorong pakai apa? Pakai PowerPoint? Doa massal? Atau mungkin pakai bisingnya buzzer bayaran?
Menurut pengamatan, yang percaya ekonomi akan melesat 6–7% biasanya cuma dua tipe orang.
Pertama, mereka yang miskin harta. Hidupnya bergantung pada harapan, karena tak punya apa-apa lagi.
Kedua, mereka yang miskin literasi. Mereka tak paham beda antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan utang pemerintah.
Mereka sebenarnya tidak salah. Mereka cuma korban dari mimpi palsu yang ditiupkan oleh influencer berbayar dan elite yang sudah lama memperlakukan republik ini seperti mesin ATM pribadi.
Artikel Terkait
Polri Dampingi Keluarga Korban dan Pastikan Proses Hukum Kasus Brimob Tewaskan Pelajar di Tual
Jadwal Buka Puasa Batam Hari Ini: Maghrib Pukul 18.23 WIB
Anggota DPR Hidayat Nur Wahid Desak Pemerintah Tinjau Ulang Perjanjian Dagang dengan AS Soal Jaminan Halal
BMKG Prakirakan Hujan Seharian di Makassar dan Sekitarnya pada 27 Februari