Di sisi lain, algoritma media sosial ternyata punya andil besar. Konten bernuansa agama yang memicu emosi cenderung melesat naik ke trending topik. Itu sebabnya bahayanya jadi berlipat ganda.
Begitu video semacam ini muncul, reaksi spontan masyarakat biasanya langsung berkobar. Sayangnya, respons resmi dari pihak berwajib sering datang terlambat. Celah waktu itulah yang dimanfaatkan hoaks untuk berkembang lebih liar.
Para tokoh agama pun angkat bicara. Mereka memang mengutuk keras tindakan dalam video tersebut. Tapi sekaligus mengingatkan agar umat tidak terpancing menyebarluaskan kontennya. "Jangan sampai niat membela agama malah jadi bumerang," pesan salah satu tokoh.
Intinya, video penghinaan Al-Qur'an ini bukan cuma persoalan individu. Lebih dari itu, dia berpotensi jadi alat propaganda bagi pihak-pihak yang ingin menciptakan kekacauan.
Masyarakat sekarang dituntut lebih cerdas menyikapi arus informasi. Menyebarkan video tanpa verifikasi bukanlah solusi justru membantu para provokator mencapai tujuan mereka. Kasus ini membuktikan betapa ruang digital kita masih sangat rentan terhadap eksploitasi isu agama.
Artikel Terkait
Anies Baswedan dan Tiga Lapis Strategi Menuju 2029
Iran Tegas Tangani Perusuh, Unjuk Rasa Bergulir ke 45 Kota
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Muhammadiyah dan NU Tegaskan Bukan Sikap Resmi
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik