Di sisi lain, algoritma media sosial ternyata punya andil besar. Konten bernuansa agama yang memicu emosi cenderung melesat naik ke trending topik. Itu sebabnya bahayanya jadi berlipat ganda.
Begitu video semacam ini muncul, reaksi spontan masyarakat biasanya langsung berkobar. Sayangnya, respons resmi dari pihak berwajib sering datang terlambat. Celah waktu itulah yang dimanfaatkan hoaks untuk berkembang lebih liar.
Para tokoh agama pun angkat bicara. Mereka memang mengutuk keras tindakan dalam video tersebut. Tapi sekaligus mengingatkan agar umat tidak terpancing menyebarluaskan kontennya. "Jangan sampai niat membela agama malah jadi bumerang," pesan salah satu tokoh.
Intinya, video penghinaan Al-Qur'an ini bukan cuma persoalan individu. Lebih dari itu, dia berpotensi jadi alat propaganda bagi pihak-pihak yang ingin menciptakan kekacauan.
Masyarakat sekarang dituntut lebih cerdas menyikapi arus informasi. Menyebarkan video tanpa verifikasi bukanlah solusi justru membantu para provokator mencapai tujuan mereka. Kasus ini membuktikan betapa ruang digital kita masih sangat rentan terhadap eksploitasi isu agama.
Artikel Terkait
Sorloth Cetak Hattrick, Atletico Madrid Gasak Club Brugge 4-1
Jadwal Imsak Kota Medan 25 Februari 2026 Pukul 05.12 WIB
Imsak Jogja Hari Ini Pukul 04.17 WIB, Disusul Subuh 04.27 WIB
Inter Milan Hadapi Tekanan Berat di Laga Penentu Lawan Bodo/Glimt