Di kuartal terakhir 2025, PT Amman Mineral Internasional (AMMN) tercatat menggelontorkan dana yang tak sedikit untuk kegiatan eksplorasinya. Tepatnya, perusahaan merogoh kocek hingga 3,03 juta dolar AS, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp50,90 miliar. Angka ini tentu menarik untuk disimak.
Nah, kegiatan pengeboran dan penyelidikan itu dilaksanakan oleh anak usahanya, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Fokusnya ada di wilayah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di IUPK Blok II dan III yang dikenal dengan nama Elang dan Rinti. Menariknya, untuk Blok I (Batu Hijau) dan Blok IV, perseroan sama sekali tidak melakukan eksplorasi lapangan. Alhasil, tidak ada pengeluaran yang dicatat untuk kedua area tersebut pada periode ini.
Lalu, apa rencana ke depannya? Menurut perusahaan, mereka akan melakukan tinjauan mendalam. Evaluasi atas hasil eksplorasi yang sudah dikerjakan ini nantinya jadi bahan pertimbangan untuk menentukan langkah strategis pengembangan wilayah tambang.
Kalau kita bandingkan dengan kuartal sebelumnya, ternyata belanja kuartal IV ini sedikit lebih tinggi. Di kuartal II-2025, AMMN melalui AMNT 'hanya' menghabiskan dana eksplorasi sebesar 2,85 juta dolar AS untuk wilayah yang sama di Sumbawa itu.
Sementara dari sisi analis, ada pandangan yang cukup optimis. Riset Sucor Sekuritas per 9 Desember 2025 menyoroti satu hal.
Dimulainya Phase 8 di Batu Hijau disebut-sebut sebagai katalis utama. Bahkan, mereka menjulukinya sebagai "game changer" atau pengubah permainan.
"Produksi konsentrat pada 2026 diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat secara tahunan," begitu bunyi laporan tersebut.
Lonjakan ini ditopang beberapa faktor: peningkatan kadar bijih, hadirnya jalur konsentrator baru, serta kinerja smelter tembaga yang semakin solid. Smelter yang mulai menghasilkan katoda di awal 2025 itu diproyeksikan utilisasinya mencapai 80% pada 2026. Dan pada 2027, diprediksi akan mendekati kapasitas penuh.
Di sisi lain, masa depan perusahaan tak cuma bertumpu pada Batu Hijau. Proyek Elang, yang letaknya sekitar 54 kilometer dari tambang eksisting, disebut sebagai mesin pertumbuhan berikutnya. Jangan main-main, Elang ini masuk dalam jajaran cadangan tembaga-emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan. Sumber dayanya setara dengan 25 miliar pon tembaga dan 35,1 juta ons emas. Rencananya, proyek raksasa ini baru akan memasuki tahap commissioning pada 2031.
Jadi, meski eksplorasi kuartal ini fokus di area tertentu, langkah Amman Mineral ke depan terlihat cukup terarah. Mereka punya basis produksi yang sedang diperkuat dan cadangan masa depan yang sangat menjanjikan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar