Eddy Soeparno, sang Wakil Ketua MPR RI, membuka agenda tahun 2026 dengan menginjakkan kaki di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan babak baru dari program MPR Goes to Campus yang ia galakkan. Menariknya, kampus ini menjadi yang ke-40 sejak Eddy meluncurkan inisiatifnya itu, tak lama setelah ia menduduki kursi pimpinan MPR di akhir 2024 silam.
Di hadapan para mahasiswa, Eddy tak banyak berbasa-basi. Ia langsung mengetuk kesadaran semua yang hadir tentang satu isu genting: krisis iklim. Menurutnya, kita sudah lewat dari sekadar 'perubahan iklim'. Situasinya kini darurat, dan dampaknya terasa begitu dekat dengan keseharian masyarakat.
Demikian penegasannya dalam keterangan pers, Sabtu (10/1/2026).
Eddy, yang juga seorang Doktor Ilmu Politik UI, memaparkan buktinya. Sepanjang 2025, kelompok ekonomi lemah dan masyarakat miskin jadi pihak yang paling terpukul. Ia menyebut sederet bencana, mulai dari banjir rob, hujan ekstrem yang tak henti, hingga musibah yang melanda Aceh, Sumut, dan Sumbar. Dampaknya, kata dia, paling berat dirasakan oleh rakyat kecil.
Karena itulah, ia mendesak pemerintah untuk serius. Tahun 2026 ini harus dijadikan tahun mitigasi krisis iklim. Tanpa agenda yang jelas dan terarah, kekhawatiran terbesar adalah situasi yang makin runyam.
Di sisi lain, Eddy juga menekankan satu hal yang ia anggap krusial: percepatan pengesahan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim. Baginya, ini instrumen kunci untuk menyatukan langkah nasional.
Artikel Terkait
Paus Leo XIV Soroti Luka Gereja: Pintu Tak Boleh Tertutup bagi Korban
Ahli Geologi Turun Tangan Selidiki Lubang Ajaib di Sawah Pombatan
Banjir Setinggi Pinggang Rendam Tiga Desa di Probolinggo
Asap Mesin Penghancur Batu Tewaskan Empat Penambang di Badakhshan