Di awal Ramadan ini, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, memilih untuk blusukan. Tujuannya jelas: meninjau langsung kondisi para penyintas bencana di Aceh. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial. Lebih dari itu, ia ingin memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi benar-benar berjalan di lapangan.
Agenda pertama berlangsung di Aceh Tamiang. Di Dusun Damai, Desa Bundar, Tito menyaksikan sendiri para praja IPDN Kemendagri yang masih sibuk membersihkan sisa lumpur banjir. Ia tampak puas dengan kerja keras mereka. "Kinerjanya bagus," ujarnya. Di sela peninjauan, ia juga menyempatkan diri mendengar keluhan warga. Masalah paling mendesak saat itu adalah ketersediaan air bersih.
Sore harinya, suasana berubah lebih hangat. Tito berbuka puasa bersama warga di Huntara Danantara, Kampung Simpang Empat. Dalam sambutannya yang santai, ia mengungkapkan rasa syukur bisa menjalani Ramadan bersama masyarakat yang sedang berjuang pulih. Meski kondisi mulai membaik, ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah. Penanganan pengungsi, normalisasi sungai, dan penyediaan air bersih tetap jadi prioritas.
Keesokan harinya, Tito sudah berada di Aceh Timur. Ia mengawali hari dengan salat Subuh berjemaah di Masjid Darussalihin. Suasana khidmat itu kemudian berlanjut dengan penyerahan bantuan kemasyarakatan dari Kemendagri. Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menerimanya secara simbolis. Agenda ini sekaligus jadi momen untuk mengecek progres rekonstruksi di wilayah tersebut.
Namun begitu, perhatiannya tak hanya pada hunian. Siangnya, di Dusun Kareung, Aceh Utara, Tito meninjau rencana relokasi warga. Ia bersikeras, hidup di tenda pengungsian tidak boleh berlarut-larut.
"Saya ingin agar secepat mungkin dibangunkan hunian sementara yang layak. Jangan lagi (tinggal) di tenda karena di tenda itu nggak nyaman," tegas Tito dalam keterangan tertulisnya, Rabu (25/2/2026).
Hunian sementara, menurutnya, adalah solusi agar warga bisa hidup lebih layak sembari menunggu rumah permanen.
Rangkaian kunjungan terus berlanjut. Di Islamic Center Lhokseumawe, ia kembali berbuka puasa bersama. Kali ini, ia menyerahkan bantuan langsung dari Presiden Prabowo Subianto: ratusan paket perlengkapan ibadah serta ribuan potong pakaian untuk anak-anak dan dewasa. Bantuan serupa juga disalurkan di posko pengungsian Balee Panah, Bireuen.
Di Bireuen, Tito melihat secercah harapan. Ia mengapresiasi pemulihan yang terlihat cukup pesat. "Banyak anak muda sudah kembali menggunakan smartphone," katanya, menandai kembalinya aktivitas warga. Tapi ia ingatkan, pekerjaan belum selesai. Perbaikan sekolah, masjid, dan ponpes harus terus digenjot. Ia meminta semua pihak untuk bersabar.
Persoalan lain yang tak kalah pelik justru ditemui di Pidie Jaya. Di Kecamatan Meurah Dua, Tito berdiri di atas hamparan sawah yang nyaris hilang tertimbun lumpur. Tebalnya bisa mencapai satu meter. Miris. Padahal, daerah ini adalah lumbung pangan dengan luas pertanian hampir 9.000 hektare.
"Kondisi ini perlu segera ditangani," ujarnya prihatin. Jika dibiarkan, produksi padi terancam anjlok.
Ia berharap Kementerian Pertanian turun tangan. "Mudah-mudahan nanti Pak Mentan Andi Amran Sulaiman memberikan perhatian agar lahan ini bisa segera kembali produktif," kata Tito.
Rangkaian panjang itu ditutup dengan salat Subuh di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (22/2). Tito menegaskan, safari Ramadan ini adalah bentuk silaturahmi sekaligus pemantauan langsung. Ia mengingatkan, tugas yang diamanahkan Presiden Prabowo ini adalah bagian dari ibadah untuk membantu sesama. Sebelum berpamitan, ia kembali menyerahkan paket bantuan, termasuk Al-Qur’an wakaf dari presiden, untuk masyarakat Aceh.
Dalam perjalanannya selama 19-21 Februari itu, Tito tak sendirian. Ia didampingi Dirjen Bina Adwil Kemendagri Safrizal ZA, Wagub Aceh Fadhlullah TM Daud, serta sejumlah kepala daerah setempat.
Artikel Terkait
Kebakaran di Kemayoran Hanguskan 250 Rumah, Tiga Warga Luka-Luka
Ketua BKSAP DPR Nilai Penyelenggaraan Haji 2026 Meningkat Signifikan, Catat Sejumlah Masalah Teknis
Dino Patti Djalal Beri Lima Rekomendasi ke Prabowo untuk Kurangi Perjalanan ke Luar Negeri Demi Efisiensi Anggaran
Kebakaran Hebat di Kemayoran Hanguskan 250 Rumah, 620 Jiwa Mengungsi