Trotoar seharusnya jadi tempat yang aman buat semua orang, termasuk para penyandang tunanetra. Mereka mengandalkan guiding block blok penuntun berwarna kuning itu untuk bisa berjalan dengan percaya diri. Sayangnya, harapan dan kenyataan seringkali tak sejalan.
Ambil contoh kondisi di Jalan Pegangsaan Barat, Jakarta Pusat. Beberapa blok penuntun di sana sudah memudar warnanya. Bahkan, bentuknya saja sudah tidak karuan, tidak lagi utuh seperti kotak-kotak penuntun arah. Yang bikin geleng-geleng kepala, ada guiding block yang malah mengarahkan pengguna ke tiang listrik. Padahal, seharusnya ada rambu berhenti berupa pola titik-titik bulat yang memberi peringatan. Tapi di sini? Tidak ada.
Athelia (27), seorang pejalan kaki yang kerap melintas di kawasan itu, mengaku prihatin. Menurutnya, trotoar di Jakarta masih jauh dari kata ramah bagi tunanetra.
"Baiknya didampingi ya, kasihan juga kalau jalan sendiri," ujarnya.
Persoalan serupa juga terlihat di Jalan Pangeran Diponegoro. Bukan cuma soal kerusakan fisik, tapi juga halangan lain yang justru membuat fasilitas ini tidak berfungsi. Mobil yang parkir sembarangan kerap menutupi blok penuntun. Belum lagi pedagang kaki lima yang berjualan di atasnya, membuat blok panduan itu tak terlihat sama sekali.
Artikel Terkait
Delapan Tahun Berlalu, Tere Liye Buka Suara Soal Sindiran ke Petugas Pajak
Laba Sawit Menguap ke Singapura, Indonesia Cuma Dapat Sisa
Mezquita-Catedral Córdoba: Kisah Dua Peradaban dalam Satu Atap
KPK Ungkap Modus Potong Pajak Rp75 Miliar Jadi Rp15 Miliar di Jakut