Board of Piece, Apa Sih Sebenarnya?
Kalau mau jujur, ini seperti dagelan di panggung politik internasional. Gagasannya datang dari Donald Trump, yang meski sudah berstatus 'lansia' tapi ambisinya tak pernah surut. Intinya, dia ingin memonopoli proyek rekonstruksi Gaza. Targetnya jelas: menggeser peran PBB dan UNRWA yang selama ini jadi tulang punggung bantuan kemanusiaan di sana.
Jadi, bayangkan saja. Nanti ketika negara-negara lain urunan dana untuk membangun kembali Gaza, yang akan memegang kendali eksekusi bukanlah lembaga multilateral yang sudah mapan, melainkan "Board of Piece" ciptaannya ini. Sebuah langkah yang, bagi banyak pengamat, terasa sangat dipaksakan dan penuh kepentingan.
Dan lucunya atau mungkin tragisnya kekuasaan di badan ini mutlak dipegang Trump. Dia bahkan menyematkan sendiri jabatan "Ketua Board of Peace" seumur hidup. Tak perlu heran kalau nantinya anak-cucu atau kerabat dekatnya akan muncul mengisi posisi-posisi strategis. Modelnya mirip seperti bisnis keluarga, tapi skalanya global.
Namun begitu, ada satu hal yang mungkin jadi batu sandungan besar: waktu. Masa jabatan presiden AS cuma empat tahun. Artinya, bagi Trump, waktu yang tersisa tinggal sekitar tiga tahun, dengan masa efektif mungkin cuma dua setengah tahun.
Dengan kerangka waktu yang sempit itu, masa depan Board of Piece ini suram. Badan ini kemungkinan besar akan cepat kehilangan tenaga dan akhirnya hilang begitu saja, terutama jika Pilpres AS 2028 dimenangkan oleh kandidat dari Partai Demokrat.
Singkatnya, ini adalah sebuah manuver yang ambisius tapi rapuh. Seperti istana pasir yang dibangun tepat di tepi ombak.
-Pega Aji Sitama-
Artikel Terkait
Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur Tewaskan Dua Orang, Puluhan Luka-Luka
PSM Makassar Takluk 2-0 dari Bali United Usai Kartu Merah di Babak Pertama
Tabrakan Frontalka Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jalur Kereta Lumpuh Total
Harga Minyak Goreng Meroket, INDEF Ungkap Lonjakan Biaya Plastik Kemasan Ikut Jadi Pemicu