Panggung megah Estadio Azteca di Kota Meksiko menjadi saksi kemeriahan upacara pembukaan Piala Dunia 2026 yang berlangsung Jumat, 12 Juni 2026. Pertunjukan spektakuler yang menampilkan sederet bintang internasional seperti Shakira, Andrea Bocelli, dan kejutan dari aktris Salma Hayek menyambut turnamen sepak bola terbesar di dunia itu. Shakira, yang pernah melambungkan lagu Waka Waka pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, kembali memukau penonton dengan membawakan lagu resmi turnamen berjudul Dai Dai bersama Burna Boy. Sementara itu, penyanyi tenor Italia Andrea Bocelli berkolaborasi dengan bintang Korea Selatan EJAE serta DJ dan produser asal Prancis, David Guetta, membawakan lagu tema DNA saat defile bendera peserta.
Pertandingan pembuka mempertemukan tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan, yang berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk Meksiko. Laga tersebut diwarnai dengan tiga kartu merah, menjadikannya salah satu pertandingan pembuka paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia.
Di luar hiruk-pikuk sepak bola, kabar mengenai fenomena iklim global turut menjadi perhatian. Badan meteorologi Amerika Serikat melalui Lembaga Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) secara resmi mengonfirmasi bahwa El Niño telah terbentuk di Samudra Pasifik. Fenomena pemanasan air laut di dekat khatulistiwa ini diprediksi akan mencapai intensitas yang memecahkan rekor dalam beberapa bulan mendatang. NOAA menyatakan bahwa terdapat kemungkinan 63 persen El Niño kali ini akan menjadi sangat kuat selama musim semi dan awal musim panas di belahan bumi selatan, sehingga akan termasuk dalam kategori peristiwa El Niño terbesar sejak pencatatan dimulai pada tahun 1950.
Para ahli memperingatkan bahwa siklus pemanasan alami ini akan memperparah kondisi bumi yang sudah memanas akibat polusi bahan bakar fosil. Dampaknya, cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia diperkirakan akan semakin sering terjadi dan lebih dahsyat.
Sementara itu, situasi darurat kesehatan masih berlangsung di Republik Demokratik Kongo (DRC). Wabah virus Ebola yang menyebar dengan cepat telah merenggut sedikitnya 100 jiwa, dengan jumlah kasus terkonfirmasi mendekati angka 600. Dalam kurun waktu hanya dua minggu, angka kasus yang terkonfirmasi melonjak lebih dari delapan kali lipat. Kendala teknis turut mempersulit upaya penanganan, karena alat deteksi yang tersedia saat ini hanya dirancang untuk mendeteksi virus Ebola Zaire yang lebih umum, bukan virus Bundibugyo yang lebih langka dan saat ini tengah menyebar. Pelacakan kontak, yang merupakan langkah krusial dalam mengendalikan wabah, baru mencapai 64 persen, jauh dari target normal 80 hingga 90 persen.
Dari ranah hukum internasional, dua pria etnis Uyghur dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Thailand. Yusufu Mieraili dan Bilal Mohammed dinyatakan terbukti bersalah atas pembunuhan berencana dan percobaan pembunuhan terkait serangan bom di Kuil Erawan, Bangkok, pada Agustus 2015. Ledakan tersebut menewaskan 20 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya, meninggalkan puing-puing sepeda motor dan sisa-sisa bangunan yang hangus. Menanggapi putusan tersebut, Mieraili menyatakan penolakannya. “RIP sistem peradilan Thailand. Saya tidak menerima semua ini. Saya tidak melakukan kesalahan apa pun,” ujarnya.
Artikel Terkait
Pemerintah Penajam Paser Utara Siapkan Penanganan Darurat Antisipasi Krisis Air Bersih Akibat Kemarau Panjang
Direktur Utama Blueray Cargo Akui Beri Mobil Mewah dan Jam Tangan ke Pejabat Bea Cukai
KPK Sita Uang Tunai Rp293 Juta dari Rumah Mantan Menteri Imipas Silmy Karim
Polisi Selidiki Penemuan Dua Jenazah Perempuan di Banyumas, Satu di Dalam Sumur