Prabowo Puji Desain Jembatan Kabanaran, Minta Anak Sekolah Tak Lagi Dipaksa Menyambut

- Kamis, 20 November 2025 | 03:36 WIB
Prabowo Puji Desain Jembatan Kabanaran, Minta Anak Sekolah Tak Lagi Dipaksa Menyambut

Rabu (19/11) lalu, suasana di Kulon Progo tampak berbeda. Di bawah terik matahari, Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DIY Sri Sultan HB X berdiri berdampingan, meresmikan Jembatan Kabanaran yang megah. Prabowo tampil santai dengan kemeja safari cokelat, dilengkapi topi dan kacamata hitam. Ia tak sendirian. Beberapa menteri Kabinet Merah Putih turut mendampingi dalam acara penting ini.

Jembatan sepanjang 2,3 kilometer ini memang istimewa. Ia membentang di sisi Pantai Laut Selatan, menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo. Di tengahnya, sebuah gunungan berwarna coklat keemasan dengan corak batik menjadi penanda sekaligus daya tarik. Untuk mewujudkannya, pemerintah menggelontorkan dana tak main-main: sekitar Rp 860 miliar.

Menurut sejumlah saksi, suasana peresmian berlangsung cukup cair. Prabowo terlihat beberapa kali berbincang hangat dengan para pejabat, termasuk Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo. "Jembatan Kabanaran sendiri Rp 860 [miliar] sekian," ucap Dody kepada wartawan. Ia menambahkan, pembangunan ini merupakan bukti nyata dari Asta Cita Presiden.

Pujian untuk Desain dan Harapan untuk Rakyat

Prabowo sendiri tak menyembunyikan kekagumannya. "Saya sangat terkesan keindahan ini, luar biasa juga desainnya sangat luar biasa," ujarnya. Dengan nada haru, ia berharap semoga Tuhan selalu menyertai rakyat Yogyakarta. Pujian juga ia sampaikan langsung kepada Sultan HB X. Saat berjalan menuju tengah jembatan, Prabowo menyebut topi yang dikenakan Sultan mirip "pasukan khusus". Komentar itu disambut tawa. AHY yang berada di belakang ikut menyahut, "Kayak topi komando waktu itu."

Bahkan dalam pidatonya, Prabowo kembali memuji penampilan Sultan. "Saya juga tadi pangling, Sri Sultan juga tambah muda kelihatannya. Saya kira tadi kapten dari pasukan khusus," ujarnya disambut gelak hadirin.

Dampak Ekonomi yang Ditunggu

Di sisi lain, Prabowo menekankan harapan besarnya terhadap jembatan ini. Ia yakin Kabanaran akan mendongkrak perekonomian DIY. "Jadi kita berharap sangat membantu aktivitas ekonomi dan pariwisata," tegasnya. Rencananya, pemerintah akan membina UMKM dan menyediakan fasilitas yang memadai agar sektor ini bisa mendorong pariwisata. Tak hanya itu, pembangunan hotel bernuansa kearifan lokal juga akan didukung. "Memang kita harus dorong pariwisata karena pariwisata adalah penyumbang devisa yang sangat besar dan adalah penyerap lapangan kerja yang sangat besar pula," jelas Prabowo. Ia pun membocorkan kabar gembira: sektor pariwisata tahun ini meningkat 20 persen.

Permintaan Khusus untuk Penyambutan

Namun begitu, ada satu hal yang mengusiknya. Dalam perjalanan menuju lokasi, ia disambut oleh banyak anak sekolah yang berjejer di pinggir jalan. Meski terkesan, ia justru merasa kasihan. "Saya terkesan tapi saya kasihan juga mereka berdiri lama di panas," katanya. Karena itu, ia meminta Letkol Teddy untuk mengeluarkan surat edaran agar para kepala daerah tak lagi mengerahkan anak-anak sekolah untuk menyambutnya. "Biarlah mereka di sekolah masing-masing, kalau mereka mau lihat bisa mungkin dari TV dan kalau saya mau periksa, saya akan masuk ke ruang kelas saja," tuturnya.

Makna di Balik Nama Kabanaran

Lalu, apa arti nama Kabanaran? Ternyata, nama ini dipilih langsung oleh Sultan HB X. Menurut Ditya Nanaryo Aji dari Dinas Kominfo DIY, nama ini punya nilai historis yang dalam. Jembatan ini berada di kawasan yang dulu menjadi markas perjuangan Pangeran Mangkubumi, atau Sultan Hamengku Buwono I, melawan Belanda. Saat itu, daerah itu dikenal sebagai Desa Kabanaran.

Di desa inilah, pada 11 Desember 1749, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja dengan gelar 'Sunan Kabanaran'. Peristiwa itu terjadi setelah kabar bahwa Susuhunan Pakubuwana II sakit. Pengikutnya kemudian menobatkannya sebagai Raja Mataram di Kabanaran. Di sini pula, ia memerintahkan pembangunan keraton dan pemukiman, menjadikan Kabanaran seperti kota yang makmur dengan pasar dan berbagai acara besar. Gelar Sunan Kabanaran melekat padanya hingga akhirnya berubah menjadi Sultan Hamengku Buwana I setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755.

Kini, nama itu dihidupkan kembali. Bukan sekadar penanda fisik, melainkan pengingat akan semangat perjuangan dan kebersamaan yang dulu mengantarkan Pangeran Mangkubumi pada takhtanya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar