Suasana di ruang rapat Komisi III DPR, Kamis lalu, mendadak tegang. Habiburokhman, sang ketua, tak segan mengusir perwakilan pengembang PT Hasana Damai Putra (HDP) di tengah rapat dengar pendapat umum. Penyebabnya? Pelanggaran terhadap tata tertib rapat yang dinilai Habiburokhman sudah keterlaluan.
Rapat yang digelar di Senayan itu sebenarnya membahas hal serius: tindak lanjut kasus penolakan akses ke musala di kawasan Perumahan Vasana dan Neo Vasana. Namun, jalannya diskusi justru berujung ricuh.
Habiburokhman membuka dengan pertanyaan pedas. Dia menuntut penjelasan, mengapa kesimpulan dari RDPU sebelumnya tak kunjung dilaksanakan oleh pengembang. Perwakilan HDP yang hadir tanpa menyebut namanya langsung menjadi sasaran.
"Coba dari HDP, kan Bapak yang hadir kemarin, Pak. Kok tidak Anda laksanakan, Pak?" tanya Habiburokhman.
Pengembang itu berusaha membela diri. Dia mencoba menyebutkan adanya protes dari sebagian warga cluster Vasana. Tapi, Habiburokhman langsung memotong.
"Bukan urusan Anda. Bukan urusan Anda. Anda jawab atau Anda yang keluar?" kata Habiburokhman dengan nada tinggi.
Si perwakilan HDP bersikukuh bahwa penjelasannya perlu disampaikan. Namun, ketua komisi itu hanya punya satu pertanyaan yang berulang: "Mengapa Anda tidak laksanakan keputusan Komisi III?"
Di sisi lain, pengembang berusaha meluruskan. "Kami tidak, bukan tidak melaksanakan, kami tidak pernah menolak," katanya. Dia mengaku hanya terkendala.
"Tapi tidak melaksanakan gitu loh," sergah Habiburokhman lagi.
Kendala itu pun akhirnya disebutkan. Menurut pengembang, sebagian besar warga cluster menolak pembukaan tembok dan bahkan mengancam akan menuntut HDP secara hukum. Surat penolakan tertulis sudah mereka terima sejak Oktober tahun lalu.
Sayangnya, penjelasan ini dianggap Habiburokhman berbelit dan mengulang hal sama. Ketika perwakilan HDP meminta agar tidak dipotong, habislah sudah kesabaran sang ketua.
"Saya yang mengatur, Pak! Anda keluar! Pamdal, dikeluarkan ini orang, tidak efektif rapat dengannya dia. Silakan keluar!" hardik Habiburokhman.
Suaranya semakin keras. "Keluar! Nggak jelas ini! Luar biasa Anda ini, keluar! Anda sudah diingatkan tiga kali."
Dia menuding perwakilan itu menghalangi pembangunan musala. Dalam sekejap, rapat yang semestinya mencari solusi itu berakhir dengan pengusiran. Ruang yang tadinya hening, pecah oleh suara perintah dan ketegangan yang nyaris terlihat.
Artikel Terkait
Penembakan di Festival Old West End Toledo, Sejumlah Korban Dilarikan ke Rumah Sakit
Dua Tentara Israel Tewas di Lebanon Selatan, Termasuk Perwira Komando
Selebgram Makassar Diperiksa 6 Jam, Akui Lumpuh Sementara Usai Konsumsi Gas Tertawa
Studi: Larangan Impor Limbah Plastik China Picu Lonjakan Polusi Udara di Indonesia