"Kami tidak mengetahui siapa yang mengajukan. Sistem hanya membaca data dan kelengkapan dokumen."
Rahasianya ternyata sederhana, meski membuat banyak orang mengernyit. Pendaftaran dilakukan melalui beberapa yayasan berbeda. Seperti memecah arus sungai menjadi banyak anak kali, sehingga batas 10 dapur per yayasan tak pernah terlampaui setidaknya di atas kertas.
Kepala BGN Dadan Hindayana berusaha menjelaskan celah sistem ini. Proses pengajuan yang sepenuhnya digital, katanya, buta terhadap identitas personal si pengaju. Sistem tak peduli apakah yang mendaftar adalah anak pejabat atau warga biasa.
Meski mengakui adanya keanehan dalam jumlah tersebut, Dadan justru melihat sisi positifnya. "Kami menghargai semua pihak yang ikut memperluas pelayanan makanan bergizi untuk masyarakat," ujarnya, seolah berusaha menenangkan gelombang kritik.
Di balik semua ini, ada profil singkat Yasika sendiri. Putri Wakil Ketua DPRD Sulsel Yasir Machmud dari Partai Gerindra ini, meski masih sangat muda, sudah menduduki posisi pembina di yayasan-yayasan tersebut.
Dalam sebuah acara peresmian dapur di Bone pekan lalu, Yasika tampil percaya diri. "Kami ingin memastikan anak-anak di Sulsel menerima makanan bergizi," katanya. "Dari Makassar kami mulai dan terus berkembang hingga hari ini."
Perkembangan yang, setidaknya menurut data BGN, sangat pesat untuk seseorang yang baru berusia 20 tahun.
Artikel Terkait
Lima Desa di Aceh Masih Gelap Gulita Pascabencana, Tiang Listrik Roboh Berantakan
Pertemuan Solo: Skenario Terselubung di Balik Kunjungan Eggi-DHL ke Jokowi?
Prabowo Resmikan Sekolah Rakyat, Targetkan 500 Ribu Siswa dari Keluarga Miskin
Ratusan Ton Bawang Ilegal Berbakteri Digagalkan di Gudang Semarang