Demikian pula dengan istilah "muslim" yang meskipun secara bahasa berarti "orang yang berserah diri", dalam praktiknya merujuk pada mereka yang mengakui dan melaksanakan Rukun Islam. Dengan demikian, kedua terminologi ini memiliki parameter yang jelas dalam sistem keyakinan Islam.
Konsistensi Kontekstual dalam Penafsiran
Pakar tafsir menekankan pentingnya menjaga konsistensi penafsiran di seluruh kandungan Al-Qur'an. Jika kata "mukmin" diartikan secara universal dalam satu ayat, maka penafsiran ini harus kompatibel dengan ratusan ayat lain yang menggunakan istilah yang sama.
Pendekatan hermeneutika yang sehat menolak metode "cocokologi" atau penyesuaian makna berdasarkan preferensi pribadi tanpa mempertimbangkan kesatuan sistemik dalam kitab suci.
Menemukan Titik Temu dalam Perbedaan
Meskipun makna "mukmin" tidak dapat diperluas secara semantik, nilai-nilai universal tentang persaudaraan kemanusiaan tetap dapat dijunjung tinggi melalui konsep lain dalam Islam. Ajaran tentang keadilan, penghormatan terhadap keyakinan lain, dan perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia tetap menjadi pijakan dalam membangun relasi antarumat beragama.
Pemahaman yang komprehensif tentang batasan terminologi justru dapat membuka ruang dialog yang lebih konstruktif, di mana setiap tradisi agama dapat menyampaikan konsep-konsep kunci mereka dengan presisi tanpa harus mengaburkan makna yang telah mapan.
Catatan Redaksi: Tulisan ini disusun berdasarkan analisis teologis dengan tetap menjaga prinsip penghormatan terhadap keragaman interpretasi keagamaan.
Artikel Terkait
Ketika Cinta Terasa Melelahkan: Mengurai Rasa Takut Kehilangan yang Diam-Diam Menggerogoti
Al-Quran dan Sains: Dusta Pejabat Bisa Picu Gangguan Kesehatan?
Parkir Informal Menggurita di Sekitar Stasiun, Tarif Resmi Ditinggalkan
Komedi yang Jinak: Ketika Tawa Tak Lagi Menggugat