Defisit APBN 2025 Sengaja Dibesarkan, Purbaya: Biar Ekonomi Tak Morat-Marit

- Jumat, 09 Januari 2026 | 07:00 WIB
Defisit APBN 2025 Sengaja Dibesarkan, Purbaya: Biar Ekonomi Tak Morat-Marit

JAKARTA – Angka defisit APBN untuk tahun 2025 ternyata bakal lebih besar dari yang semula direncanakan. Menteri Keuangan Purbaya melaporkan, defisit itu membengkak jadi Rp695,1 triliun, atau sekitar 2,92 persen dari PDB. Kalau dibandingin sama tahun 2024 yang cuma 2,3 persen, jelas ada kenaikan yang cukup signifikan.

Nah, soal pelebaran ini, Purbaya punya penjelasan. Dia bilang, ini bukan kesalahan hitung atau kebobolan. Justru, ini langkah yang disengaja pemerintah. Naiknya defisit dari target awal 2,53 persen ke 2,92 persen itu bagian dari kebijakan counter-cyclical. Intinya, pemerintah sengaja nambah stimulus biar ekonomi tetap bergerak maju di tengah tekanan global yang diperkirakan masih bakal berat sepanjang 2025.

"Defisit naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen ini misi menjaga ekonomi ekspansi ini kebijakan countercyclical," tegas Purbaya.

Dia bahkan menyebut dengan nada blak-blakan, "Saya buat defisit 0 persen juga bisa tapi ekonomi morat-marit."

Pernyataan itu disampaikannya dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1/2026) lalu.

Meski angkanya melebar, ada satu hal yang dia apresiasi. Timnya di Kemenkeu berhasil menjaga agar defisit itu nggak nyelonong melewati batas aman konstitusi, yaitu 3 persen. Di tengah situasi yang serba nggak pasti, menurutnya, ini adalah bentuk kehati-hatian fiskal yang ketat.

"Ini kepiawaian teman-teman Kemenkeu untuk jaga fiskal. Kita jaga defisit di bawah 3 persen walau keadaan agak menekan kita," ucap Purbaya.

Lalu, apa harapan ke depannya? Purbaya optimis. Stimulus yang dikucurkan tahun 2025 ini diyakini bakal panen hasilnya di tahun berikutnya. Fondasi ekonomi yang mulai menguat diharapkan bisa mendorong pertumbuhan hingga 5,4 persen. Kalau momentum ini udah kebentuk, baru deh pemerintah berencana menahan laju defisit, menurunkannya lagi ke level yang lebih rendah.

"Saya yakin 2026 dengan membaiknya fondasi ekonomi dan momentum ekonomi ke depan, defisit bisa ditekan dengan dampak ekonomi ke masyarakat lebih besar," katanya meyakinkan.

Komitmennya jelas: pengelolaan keuangan negara harus adaptif. Tujuannya satu, biar pertumbuhan ekonomi yang tercipta benar-benar bisa dirasakan rakyat, tanpa mengorbankan kesehatan anggaran negara dalam jangka panjang. Jalan tengah yang emang nggak gampang, tapi harus ditempuh.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar