Kita sering mengira hubungan yang melelahkan selalu penuh drama dan pertengkaran. Padahal, yang justru lebih sering terjadi adalah kelelahan yang datang perlahan. Kelelahan yang muncul dari hal-hal kecil yang berulang, menggerogoti fondasi hubungan tanpa suara.
Rasa cemas itu datang diam-diam. Mungkin saat kamu bertanya-tanya kenapa balasan pesannya lebih singkat hari ini. Atau ketika kamu merasakan ada jarak yang tak bisa dijelaskan, padahal semuanya terlihat baik-baik saja. Inilah yang bikin capek: rasa takut kehilangan, takut berubah, takut ditinggalkan, yang terus menggerogoti pikiran. Energi emosional terkuras, bukan karena konflik besar, tapi karena pikiran yang tak pernah benar-benar berhenti mencari kepastian.
Dari Mana Rasa Takut Kehilangan itu Muncul?
Perasaan ini jarang muncul tiba-tiba. Ia tumbuh pelan-pelan, dipicu perubahan kecil yang samar tapi terasa. Respons yang mulai melambat, obrolan yang tak lagi seramai dulu, atau kehangatan yang sedikit berkurang. Hal-hal remeh ini sering jadi sinyal awal yang memicu kegelisahan.
Pikiran pun jadi lebih aktif. Kita mulai membaca makna di balik setiap sikap pasangan, membangun asumsi, dan kadang terjebak dalam penafsiran yang berlebihan. Yang terjadi sebenarnya sederhana: kebutuhan akan kepastian meningkat drastis. Bukan karena kita tak percaya, tapi karena rasa tidak aman itu muncul dan kita belum sempat memahaminya.
Pengalaman masa lalu punya andil besar. Luka dari hubungan sebelumnya yang berakhir mendadak atau penuh kejutan bisa bikin kita lebih sensitif. Akibatnya, alarm "takut kehilangan" mudah sekali berbunyi, bahkan tanpa pemicu yang jelas di hubungan yang sekarang.
Intinya, rasa takut ini seringkali lebih berkaitan dengan cara kita memandang diri sendiri. Ia berakar pada kebutuhan mendasar kita akan rasa aman, diterima, dan percaya bahwa kita layak untuk dekat dengan orang lain.
Saat Takut Kehilangan Bertemu Pola Menjauh
Nah, situasi makin rumit ketika rasa takut kehilangan ini bertemu dengan pasangan yang punya kecenderungan menjauh. Perubahan sikapnya terasa dingin, komunikasinya jadi tidak konsisten, atau dia tiba-tiba butuh ruang lebih banyak. Bagi orang dengan anxious attachment, jarak seperti ini bukan sekadar ruang. Ia terasa seperti ancaman langsung yang membanjiri pikiran dengan tanda tanya dan kekhawatiran.
Artikel Terkait
Dapur, Masakan, dan Kenangan Ibu: Dua Cerpen yang Menyimpan Memori Kolektif
Relawan Bogor Bangun Hunian Darurat dan Bawa Harapan ke Aceh Tamiang
Longsor di Kudus Seret Dua Kendaraan ke Jurang
Istri di Balik Badai Haji: Eny Retno, Perempuan yang 21 Tahun Hidup dalam Sunyi