Namun begitu, penting untuk diingat: pola menjauh tidak selalu berarti cinta sudah hilang. Bagi sebagian orang terutama yang punya kecenderungan avoidant attachment menarik diri adalah cara mereka mengatur emosi. Itu strategi untuk menjaga diri agar tidak merasa terlalu terikat dan kewalahan.
Sayangnya, perbedaan gaya ini jarang dipahami sejak awal. Hasilnya? Lingkaran setan yang melelahkan. Satu pihak makin gencar mencari kejelasan dan kedekatan, sementara pihak lain justru makin tertekan dan memilih mundur lebih jauh. Dinamika seperti ini, jika dibiarkan, bisa membuat hubungan terasa tidak aman. Padahal, bisa jadi keduanya sama-sama tidak berniat menyakiti.
Tanda-Tanda Anxious Attachment dalam Hubungan
Bagaimana sih mengenalinya? Anxious attachment biasanya ditandai dengan kebutuhan tinggi akan kepastian emosional. Perasaan aman kita sangat bergantung pada respons pasangan. Perhatian yang konsisten, komunikasi yang lancar saat ini berkurang sedikit saja, kecemasan langsung muncul.
Tanda lainnya adalah kecenderungan untuk overthinking hal-hal kecil. Balasan chat yang telat sepuluh menit bisa langsung dibaca sebagai tanda bahaya. Kita juga sering mengorbankan kebutuhan sendiri demi hubungan. Mengalah terus, takut menyuarakan pendapat, semua demi menjaga agar si dia tidak menjauh. Ironisnya, justru ini yang membuat hubungan terasa begitu menguras tenaga.
Belajar Tenang di Tengah Rasa Takut Kehilangan
Pertama, perlu kita tekankan: punya anxious attachment bukanlah tanda kelemahan. Itu hanya bentuk lain dari kebutuhan manusiawi akan rasa aman dan penerimaan. Rasa takut kehilangan itu wajar, asal kita mau menyadarinya tanpa menghakimi diri sendiri.
Belajar mengelolanya bukan berarti kita harus jadi pribadi yang bebas cemas. Tapi lebih pada memahami sumber kecemasan itu. Dari mana asalnya? Pola apa yang berulang? Dengan mengenali luka dan pola lama, kita bisa mulai membangun hubungan yang lebih sehat baik dengan pasangan, maupun, yang tak kalah penting, dengan diri sendiri.
Langkah awalnya sederhana: bernapas. Beri jeda antara rasa cemas yang muncul dan reaksi yang kita berikan. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah mengingat bahwa kecemasan itu adalah suara dari masa lalu, bukan selalu cerminan realitas hubungan kita sekarang.
Artikel Terkait
Pandji Pragiwaksono: Ketika Panggung Komedi Jadi Ruang Kritik Terakhir
Panji Pragiwaksono Buka Kunci: Ini Alasan Sebenarnya Anies Absen di Spesial Netflix
Padel vs Tenis: Mana yang Lebih Ampuh Bakar Kalori?
Aceh Siapkan Sabo Dam di Hutan Lindung untuk Tangkal Banjir Bandang