Kampus-kampus di Iran kembali memanas sejak akhir pekan lalu. Unjuk rasa mahasiswa, baik yang pro maupun antipemerintah, kembali menyala di awal semester baru. Menanggapi gelombang protes ini, pemerintah Teheran akhirnya angkat bicara. Mereka mengakui hak mahasiswa untuk berdemonstrasi, tapi dengan satu catatan besar: ada batasan yang tak boleh dilangkahi.
Juru bicara pemerintah, Fatemeh Mohajerani, menyebutnya sebagai "garis merah".
"Hal-hal sakral dan bendera merupakan dua contoh garis merah yang tidak boleh dilanggar," ujarnya, seperti dilaporkan AFP, Selasa lalu.
"Yang harus kita lindungi dan tidak boleh kita langgar atau menyimpang darinya, bahkan di tengah kemarahan."
Mohajerani sendiri mengakui kemarahan para mahasiswa itu bisa dimengerti. Menurutnya, mereka punya luka di hati dan telah menyaksikan pemandangan yang tentu saja mengusik pikiran. Namun begitu, semuanya harus tetap dalam koridor.
Artikel Terkait
Dana Otsus Triwulan I 2026 Cair untuk 16 Daerah Papua, Penyaluran Tercepat Sejak Implementasi
Pembangunan Jalan Pengganti di Batu Tulis Bogor Dimulai, Proses Lelang Fisik Masih Berjalan
Surabaya Raih Penghargaan Global untuk Inovasi Popok Pakai Ulang
Wakil Bupati Badung Tinjau Banjir di Legian, Normalisasi Sungai Jadi Solusi Jangka Panjang