Setiap pagi, kawasan sekitar Stasiun Bekasi berubah menjadi lautan motor. Ratusan sepeda motor berderet rapi di sepanjang Jalan H. Djuanda dan sisi samping stasiun di Jalan Perjuangan. Bisnis penitipan kendaraan di sini memang sedang menjamur. Fenomena ini tumbuh seiring makin banyaknya orang yang bergantung pada kereta api untuk mobilitas harian mereka.
Dulu, kawasan ini didominasi rumah tinggal dan lahan kosong. Kini, menjelma menjadi kantong-kantong usaha parkir yang sibuk. Pemicunya sederhana: tarif resmi di dalam stasiun dinilai terlalu memberatkan, terutama bagi para pekerja yang meninggalkan kendaraannya dari pagi hingga petang.
Di area resmi, tarif parkir motor dimulai dari Rp 2.000 untuk jam pertama. Lalu, bertambah Rp 1.000 setiap jam berikutnya. Bayangkan saja, kalau ditinggal selama delapan jam, biayanya bisa melonjak cukup tinggi. Makanya, tak heran banyak penumpang memilih alternatif di luar.
“Kalau parkir di luar stasiun, dulu Rp 5.000, sekarang di tempat kami cukup bayar Rp 6.000 seharian. Walaupun sekarang ada yang mulai naik lagi,”
kata Awan, seorang petugas parkir di sekitar Stasiun Bekasi, Rabu lalu.
Lebih Hemat, Lebih Akrab
Jelas, parkir di luar stasiun jauh lebih ekonomis. Tapi ternyata, soal harga bukan satu-satunya daya tarik. Ada faktor kedekatan emosional yang juga berperan. Pengelola dan pelanggan seringkali sudah saling kenal, menciptakan rasa aman yang berbeda.
Dimas, seorang pengguna asal Tambun, membenarkan hal ini. Setiap hari ia menitipkan motornya di lahan parkir informal sebelum naik kereta.
“Kalau dibandingkan, jelas lebih murah di luar. Selisihnya jauh kalau parkir di dalam stasiun,”
ujarnya.
Meski bayarnya harian dan tak ada sistem langganan bulanan, hubungan tetap terjalin alami. Pembayaran harian justru membuat interaksi lebih personal, dan rasa saling percaya pun terbangun.
Dari Nol Pelanggan
Kisah perjuangan membangun bisnis ini juga dialami Sultan (36). Pria ini memutuskan membuka parkiran motor dekat Stasiun Bojonggede, Bogor, sekitar satu setengah tahun lalu. Namanya Penitipan Motor H5. Sebelumnya, dia bekerja sebagai kepala gudang.
“Kenapa saya buka parkiran? Karena tahun lalu ada penutupan jalan, dan ide saya di situ muncul. Saya tidak mau kehilangan kesempatan,”
ceritanya.
Jalan awalnya tidak mulus. Tiga bulan pertama, usahanya sepi pelanggan. Tapi Sultan pantang menyerah. Dia coba berbagai cara, dari menambah fasilitas sampai mengajak teman-teman untuk parkir di tempatnya. Perlahan, usahanya mulai ramai.
Dia pun berinovasi dengan menyediakan tiket cetak dan pembayaran via QRIS. Tarifnya terjangkau: Rp 5 ribu untuk motor kecil dan Rp 6 ribu untuk motor besar. Bandingkan dengan tarif maksimal Rp 10 ribu di dalam stasiun. Upayanya satu: membuat pelanggan merasa nyaman dan aman.
Wajah Baru Kawasan Stasiun
Di tempat lain, seperti di sekitar Stasiun Cikarang, transformasi kawasannya terlihat lebih ekstrem. Ruas jalan yang dulu dipenuhi ruko dan lapak pedagang, kini berubah total menjadi hamparan parkiran informal. Motor-motor berjejer rapat, seringkali tanpa atap.
Pemandangan ini agak berbeda dengan di Bekasi yang lebih tertata. Perubahan fungsi lahan ini meninggalkan jejak. Banyak ruko yang kini tertutup rapat, catnya kusam, etalasenya kosong. Bangunan itu kehilangan peminat, kalah bersaing dengan kebutuhan praktis para komuter yang mengutamakan kecepatan dan kepraktisan.
“Parkir di luar lebih cepat,”
kata Wati, seorang pengguna, menyimpulkan alasannya dengan singkat. Dan mungkin, itulah inti dari semua perubahan ini.
Artikel Terkait
Arsenal Siapkan Kaus Khusus untuk Ribuan Suporter di Final Liga Champions Lawan PSG
Kebakaran di RSUD Syekh Yusuf Gowa Tak Timbulkan Korban Jiwa, Dua Gedung Rusak
Yuran Fernandes Tinggalkan PSM Makassar, Dikabarkan Gabung Persebaya Surabaya Musim Depan
Ibu Rumah Tangga di Muara Enim Tewas Dibunuh Mantan Pacar, Jasad Dibakar dan Dibuang ke Sungai