Parkir Informal Menggurita di Sekitar Stasiun, Tarif Resmi Ditinggalkan

- Jumat, 09 Januari 2026 | 06:30 WIB
Parkir Informal Menggurita di Sekitar Stasiun, Tarif Resmi Ditinggalkan

Dari Nol Pelanggan

Kisah perjuangan membangun bisnis ini juga dialami Sultan (36). Pria ini memutuskan membuka parkiran motor dekat Stasiun Bojonggede, Bogor, sekitar satu setengah tahun lalu. Namanya Penitipan Motor H5. Sebelumnya, dia bekerja sebagai kepala gudang.

“Kenapa saya buka parkiran? Karena tahun lalu ada penutupan jalan, dan ide saya di situ muncul. Saya tidak mau kehilangan kesempatan,”

ceritanya.

Jalan awalnya tidak mulus. Tiga bulan pertama, usahanya sepi pelanggan. Tapi Sultan pantang menyerah. Dia coba berbagai cara, dari menambah fasilitas sampai mengajak teman-teman untuk parkir di tempatnya. Perlahan, usahanya mulai ramai.

Dia pun berinovasi dengan menyediakan tiket cetak dan pembayaran via QRIS. Tarifnya terjangkau: Rp 5 ribu untuk motor kecil dan Rp 6 ribu untuk motor besar. Bandingkan dengan tarif maksimal Rp 10 ribu di dalam stasiun. Upayanya satu: membuat pelanggan merasa nyaman dan aman.

Wajah Baru Kawasan Stasiun

Di tempat lain, seperti di sekitar Stasiun Cikarang, transformasi kawasannya terlihat lebih ekstrem. Ruas jalan yang dulu dipenuhi ruko dan lapak pedagang, kini berubah total menjadi hamparan parkiran informal. Motor-motor berjejer rapat, seringkali tanpa atap.

Pemandangan ini agak berbeda dengan di Bekasi yang lebih tertata. Perubahan fungsi lahan ini meninggalkan jejak. Banyak ruko yang kini tertutup rapat, catnya kusam, etalasenya kosong. Bangunan itu kehilangan peminat, kalah bersaing dengan kebutuhan praktis para komuter yang mengutamakan kecepatan dan kepraktisan.

“Parkir di luar lebih cepat,”

kata Wati, seorang pengguna, menyimpulkan alasannya dengan singkat. Dan mungkin, itulah inti dari semua perubahan ini.


Halaman:

Komentar